Personal Hygiene

PEMBAHASAN

2.1.      Personal Hygiene pada Mulut

2.1.1.      Definisi

Rongga mulut dilapisi dengan membran mukosa yang terus-menerus pada kulit. Membran merupakan jaringan epitel yang melapisi dan melindungi organ, mensekresi mukus untuk menjaga jalan saluran sistem pencernaan basah dan terminyaki, dan mengabsorpsi nutrien.

Mulut, atau bukal, rongga yang terdiri dari bibir sekitar pembukaan mulut, leher sepanjang sisi dinding rongga, lidah dan ototnya dan langit-langit mulut bagian depan dan belakang yang membentuk akar rongga. Mukosa mulut secara normal berwarna merah muda terang dan basah. Gigi adalah mengunyah, atau mastikasi. Gigi normal dari tiga bagian; kepala, leher dan akar. Membran periodental berada pada margin gusi, sekitar gigi, menahan kuat ditempat. Gigi yang sehat nampak putih, halus, bercahaya, dan berjajar rapi.

Tanggung jawab perawat pada hygiene mulut adalah pemeliharan dan pencegahan. Hal ini penting khusus jika klien hendak menerima radiasi atau kemoterapi sebagai bagian dari pengobatan medis. Perawat membantu klien untuk mempertahankan hygiene mulut yang baik dengan mengajarkan teknik yang benar atau dengan menampilkan hygiene secara aktual pada klien lemah atau cacat.

 

2.1.2.   Proses Keperawatan dan Perawatan

  1. Pengkajian Fisik

Perawat memeriksa semua daerah mulut dengan hati-hati tentang warna, hidras, tekstur, dan lukanya. Klien yang tidak mengikuti praktik hygiene mulut yang teratur akan mengalami jaringan fungsi, gusi yang meradang, gigi yang hitam (khususnya sepanjang margin gusi), karies gigi, kehilangan gigi, dan halitosis. Rasa sakit yang dilokalisasi adalah gejala umum dan penyakit gusi atau gangguan gigi tertentu. Infeksi pada mulut melibatkan organisme seperti treponema kallidum, neisseria gonorrhoeae,  dan hominis virus herves.

 

  1. Perubahan Perkembangan

Sepanjang masa hidup seseorang,  perubahan fisiologi mempengaruhi kondisi dan penampilan struktur dalam rongga mulut. Anak dapat terjadi karies gigi pada gigi susu karena pola makan atau kurangnya perawatan gigi. Gigi remaja merupakan gigi permanen dan memerlukan perhatian teratur untuk diet dan perawatan gigi dan mencegah masalah pada tahun-tahun berikutnya. Pada saat orang bertambah tua praktik hygiene mulut berubah untuk memepengaruhi gigi dan mokusa lebih lanjut.

 

  1. Pola makan

Penting mengkaji pola makan klien saat ini untuk mendeteksi keberadaan iritasi lokal pada gusi atau struktur mukosa. Tanyakan pada klien jika ada masalah tertentu dalam mengunyah kecocokan gigi palsu, atau menelan. Adanya bisul atau iritasi mengganggu pengunyahan dan menyebabkan klien menghindar untuk makan. Hal ini umum pada klien lansia dengan gigi palsu yang kurang pas.

 

  1. Pilihan dan praktik hygiene

Praktik gigi menghadapi tantangan yang baru karena peningkatan yang bermakna dalam jumlah lansia dan minoritas. Dalam menunjukkan pola karies gigi yang tidak terawat pada orang Afrika Amerika dan Meksiko Amerika dan revalensi gingivitis pada Spanyol (ismail, szpunar , 1990).

 

  1. Faktor-faktor risiko untuk masalah hygiene mulut

Klien tertentu berisiko untuk bermasalah mulut karena kurang pengetahuan tentang hygiene oral, ketidakmampuan melakukan perawatan mulut, atau perubahan integritas gigi dan mukosa akibat penyakit atau pengobatan.

Dua tipe masalah besar adalah karies gigi (lubang) dan penyakit periodental (pyorrhea). Karies gigi merupakan masalah mulut paling umum dari orang muda. Perkembangan lubang merupakan proses patologi yang melibatkan kerusakan email gigi pada akhirnya melalui kekurangan kalsium. Untuk orang yang berusia lebih dari 35 tahun, masalah yang paling umum adalah pyorrhea. Penyakit periodontal  adalah penyakit jaring sekitar gigi.

 

  1.          Proses Personal Hygiene pada Mulut
    1. Alat dan Bahan :
      a. Tongue spatel yang ujungnya dibalut dengan kain kassa
      b. Lidi kapas/cotton bud
      c. Kassa
      d. 2 pinset anatomi
      e. Baskom kecil berisi larutan anti septik
      f. 2 bak kecil berisi larutan klorin
      g. Perlak pengalas
      h. Gelas plastik berisi air putih

 

  1. Prosedur
    a. Memberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
    b. Mencuci tangan
    c. Mengatur posisi pasien
    d. Membentangkan handuk dan pengalas dibawah dagu klien
    e. Meletakkan bengkok didekat pipi klien
    f. Membuka mulut pasien, tangan kiri perawat/bidan menekan lidah pasien  dengan tongue spatel
    g. Mengambil kassa yang sudah diperas dalam larutan antiseptik dengan   menggunakan pinset.
    h. Membersihkan rongga mulut dengan cara dari dalam keluar
    i. Membersihkan gigi dan lidah
    j. Membersihkan gigi dengan kassa/deppers
    k. Mengeringkan bibir atau mumut klien dengan tissu
    l. Mengatur posisi pasien kembali
    m. Merapikan alat-alat

 

2.2.   Personal Hygiene pada Rambut

2.2.1.   Pengertian

Penampilan dan kesejahteraan seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah klien untuk memelihara perawatan rambut sehari-hari. Rambut klien imobilisasi akan terlihat menjadi kusut. Balutan bisa meninggalkan darah yang lengket atau larutan antiseptik pada rambut. Menyikat, menyisir, dan bersampo adalah cara-cara dasar higienis untuk semua klien. Klien juga harus diizinkan bercukur bila kondisi mengizinkan.

Pertumbuhan, distribusi, dan pola rambut dapat menjadi indicator status kesehatan umum. Perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi, dan penyakit tertentu atau obat-obatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut. Helai rambut adalah struktur yang tak berdaya. Perubahan warna atau kondisi terjadi akibat aktivitas hormonal dan peredaran nutrisi ke folikel.

 

2.2.2.   Proses Keperawatan dan Perawatan

  1. Pengkajian
    1. Pengkajian Fisik

Sebelum melakukan perawatan rambut, perawat mengkaji kondisi rambut dan kulit kepala. Rambut normal adalah bersih, bercahaya, dan tidak kusut, untuk kulit kepala harus bebas dari lesi. Rambut klien berkulit gelap biasanya lebih tebal, lebih keriting, dan lebih kering daripada rambut klien berkulit terang. Kehilangan rambut (alopesia) dapat disebabkan praktik perawatan yang tidak tepat atau penggunaan medikasi kemotrapi.

 

Masalah Rambut dan Kulit Kepala

Karakteristik

Implikasi

Intervensi

 

KETOMBE

Pelepasan kulit kepala disertai gatal. Pada kasus berat, ketombe dapat ditemukan di alis.

 

 

Ketombe menyebabkan seseorang menjadi malu. Jika ketombe masuk mata, berkembang menjadi konjungtivitis.

 

Bersampo secara teratur dengan sampo yang bermedikasi. Pada kasus berat, mintalah saran dokter.

 

KUTU

Parasit abu-coklat, kecil menggali liang kedalam kulit dan mengisap darah.

 

Kutu memindahkan beberapa penyakit pada manusia. Penyakit yang paling umum adalah demam berbintik “Rocky Mountain”, tularemia, dan penyakit “Lyme”.

 

Jangan menarik kutu dari kulit karena alat penghisap akan tertinggal dan dapat terinfeksi. Mematikan kutu dengan pemberian setetes minyak atau eter pada kutu atau tutupi kutu dengan jeli petrolatum untuk memudahkan pengangkatan.

 

 

PEDICULOSIS (KUTU)

Serangga parasit putih-keabuan, tipis, terdapat pada mamalia.

 

   
 

PEDICULOSIS CAPITIS (KUTU KEPALA)

Parasit ditemukan pada kulit kepala yang menempel pada helai rambut. Telur terlihat seperti partikel oval, mirip ketombe. Gigitan atau pustule dapat diobservasi dibelakang telinga atau pada garis pertumbuhan rambut.

 

 

Kutu rambut sulit dipindahkan dan dapat menyebar ke peralatan dan orang lain jika tidak diobati.

 

Bersampo dengan sampo Kwell dan ulangi 12-24 jam setelahnya. Ganti linen tempat tidur. Cuci linen dalam air panas untuk membunuh kutu.

 

PEDICULOSIS CORPORIS (KUTU BADAN)

Parasit yang cenderung melekat pada pakaian, sehingga ia tidak mudah terlihat. Kutu badan menghisap darah dan meninggalkan telur pada pakian dan peralatan.

 

Klien gatal terus menerus. Goresan yang terlihat pada kulit dapat terinfeksi. Bintik hemoragik dapat terlihat pada kulit dimana kutu menghisap darah.

 

Mandi atau shower keseluruhan. Setelah kulit kering, gunakan losion Kwell. Setelah 12-24 jam, mandi lagi. Bungkus pakaian atau linen yang terdapat kutu tersebut sampai dicuci dalam air panas. Bersihkan ruangan keseluruhan dan buang kantong setelah selesai.

 

 

KEHILANGAN RAMBUT (ALOPESIA)

Alopesia terjadi pada semua ras. Bidang pembotakan terihat pada bagian perifer garis rambut. Rambut menjadi rapuh dan patah. Kondisi ini disebabkan penggunaan pengeriting rambut, produk rambut, pengikatan yang ketat, dan pengunaan sisir panas.

 

 

Bidang-bidang pertumbuhan dan kehilangan rambut yang tidak merata mengubah penampilan klien.

 

Hentikan praktik perawatan rambut yang merusak rambut.

 

  1. Perubahan Perkembangan

Sepanjang hidup, perubahan dalam perkembangan, distribusi, dan kondisi rambut dapat mempengaruhi hygiene yang dibutuhkan seseorang.

Pekembangan Fisiologis Pertumbuhan Rambut
USIA KONDISI RAMBUT
Bayi Bayi berambut sedikit atau tampa rambut kepala saat lahir. Rambut kepala tumbuh pada tahun pertama. Rambut badan yang halus (lanugo) terdapat pada dahi, pipi, bahu, punggung.
Kanak-kanak Rambut kepala mengkilat, seperti sutera, kuat, dan elastis. Rambut pada anak berkulit gelap lebih ikal dan kasar.
Kanak-kanak menengah sampai pubertas Hormon androgen menyebabkan peningkatan ketebalan rambut kepala dan menjadi gelap, pertumbuhan rambut pada aksila dan daerah pubis pada kedua jenis kelamin, dan pertumbuhan rambut wajah terdapat pada anak laki-laki.
Remaja Anak laki memperolah tambahan jumlah distribusi rambut tubuh, seperti pada dada. Peningkatan dalam aktifitas kelenjar sebasea menyebabkan rambut berminyak.
Dewasa Pria menjadi botak dengan kecenderungan genetiknya.
Lansia Rambut aksila dan pubis berkurang pada wanita. Rambut kepala menjadi tipis dan berubah warna yaitu abu-abu akibat pengurangan melanin. Wanita lansia mungkin terdapat rambut pada dagu dan wajah karena penurunan produksi estrogen. Pria dapat mengalami kebotakan atau penyusutan garis rambut

 

  1. Kemampuan Perawatan Diri

Perawat mengkaji kemampuan fisik klien untuk merawat rambut. Kondisi yang menyakitkan tangan seperti arthritis, pegangan tangan yang lemah, kelemahan, dan hambatan fisik (mis. Gips atau balutan) merupakan beberapa kondisi yang merusak kemampuan klien dalam melakukan perawatan rambut.

  1. Praktik Perawatan Rambut

Satu cara mengkaji praktik perawatan rambut seseorang adalah observasi penampilan rambut. Rambut yang tidak bercahaya, kusut, kotor mengindikasi perawatan rambut yang tidak tepat. Rambut yang tidak disisir mungkin karena kurangnya minat, depresi, atau ketidakmampuan fisik untuk merawat rambut.

Dengan mengkaji gaya rambut pilihan klien, perawat dapat mencoba mengatur pola rambut klien yang sama. Minta klien untuk membantu atau mengajarkan perawat bagaimana gaya rambut klien yang benar sehingga memberikan klien rasa kemandirian yang lebih baik dan membantu perawat menghindari dalam membuat kesalahan yang dapat merusak rambut.

Perawat juga mengkaji tipe produk perawatan rambut yang klien gunakan, waktu kapan perawatan rambut biasanya dilakukan. Pengkajian produk bercukur perlu untuk semua klien.

  1.          Diagnosa Keperawatan

Masalah yang paling sering diidentifikasi perawat setelah pengkajian rambut dan kulit kepala berpusat pada rasa nyaman dan penampilan. Apabila teridentifikasi lesi actual atau ketidaknormalan pada kulit kepala maka diagnose keperawatan berfokus pada integritas kulit kepala.

 

Contoh Diagnosa Keperawatan NANDA untuk Perawatan Rambut dan Kulit Kepala

 

 

Deficit perawatan diri:

 

Berpakaian berhias yang berhubungan dengan:

  • Perubahan tingkat kesadaran
  • Imobilisasi fisik atau kelemahan

 

Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan:

  • Laserasi kulit kepala
  • Akumulasi sekresi di rambut

 

Nyeri yang berhubungan dengan:

  • Lesi kulit kepala
  • Akumulasi sekresi di rambut

 

Gangguan citra diri yang berhubungan dengan:

  • Penampilan fisik yang tidak disisir

 

Risiko infeksi yang berhubungan dengan:

  • Laserasi kulit kepala
  • Gigitan serangga

 

 

b.   Perencanaan

Praktik perawatan rambut yang baik harus dilakukan rutin untuk memenuhi kebutuhan hygiene klien. Perawat harus ingat bahwa klien tetap sadar akan penampilan mereka setiap saat. Dengan demikian rencana yang efektif memperbolehkan klien untuk memulai dan berpartisipasi dalam tindakan higienis apabila memungkinkan. Pemilihan factor yang tepat berhubungan mempengaruhi rencana asuhan keperawatan. Misalnya, diagnosa “kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan parasit ”memerlukan tindakan untuk menghilangkan gangguan seperti bersampo dan mengisolasikan linen tempat tidur. Diagnosa “kerusakan integriras kulit berhubungan dengan laserasi kulit kepala” akan memerlukan tindakan untuk meningkatkan penyembuhan, seperti perawatan luka.

 

c.   Tujuan bagi klien yang membutuhkan perawatan rambut dan kulit kepala adalah:

  1. Menghilangkan mikroorganisme kulit kepala
  2. Menambah rasa nyaman dan harga diri
  3. Membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit
  4. Memperlancar system peredaran darah dibawah kulit
  5. Klien berpartisipasi dalam praktik perawatan rambut

 

  1. Implementasi
    1. Penyikatan dan Penyisiran

Penyikatan yang sering membantu mempertahankan kebersihan rambut dan mendistribusikan minyak secara merata sepanjang helai rambut. Penyisiran hanya membentuk gaya rambut dan mencegah rambut kusut. Sisir bergerigi pendek cukup untuk rambut pendek, tapi sisir bergerigi panjang  untuk rambut keriting. Sisir bergerigi tajam dan tidak beraturan dapat melukai kulit kepala. Klien yang mampu melakukan perawatan-diri harus dimotivasi untuk memelihara perawatan rambut sehari-hari. Kendati demikian, pada klien yang memiliki keterbatasan mobilisasi, koordinasi yang kurang baik, dan yang bingung atau mempunyai kelemahan serius akibat penyakit memerlukan bantuan perawat.

Rambut panjang dapat dengan mudah menjadi masalah pada klien yang terbatas pada tempat tidur bahkan untuk periode pendek. Bila laserasi atau insisi melibatkan kulit kepala, darah, dan medikasi topical juga menyebabkan kekusutan. Penyikatan dan penyisiran yang sering menjaga rambut panjang terawat rapi. Kendati demikian, pengepangan membantu menghindari kusut yang berulang-ulang. Perawat harus meminta izin klien untuk mengepang rambutnya. Jika pengepangan dibuat terlalu kencang maka dapat menjadi botak.

Untuk menyikat rambut dengan benar perawat membagi rambut menjadi dua bagian dan kemudian memisahkannya tiap bagian menjadi dua bagian lagi. Pembagian memudahkan menyikat bagian yang lebih kecil pada rambut. Perawat menyisir dari kulit kepala hingga ujung rambut. Jika ada yang kusut maka perawat menggunakan tangannya untuk memisahkan seikat rambut, genggam dengan kuat dekat kulit kepala, dan sisir dilepas pada ujung ikatan. Mengaitkan rambut kusut mencegah rasa nyeri karena menarik kulit kepala ketika menyisir. Jika rambut kusut berlebihan maka perawat harus menyisir sedikit bagian tiap kali. Melembabkan rambut engan air atau alcohol seringkali membebaskan kekusutan untuk memudahkan penyisiran. Perawat tidak pernah memotong rambut klien tanpa seizing tertulis.

Klien berambut keriting biasanya menyisir rambutnya dengan sisir khusus bergerigi panjang yang berjarak jauh terpisah. Sisir bergerigi terbuka menyebabkan sedikit dorongan selama penyisiran. Membasahi rambut klien dengan air sebelum menyisir mencegah trauma pada rambut. Untuk menyisir rambut keriting, perawat memulai pada garis leher klien dan mengangkat dengan perlahan-lahan dan menyisir ke arah luar rambut sampai mencapai dahi. Perawat menyisir satu bagian kepala klien satu kali dan kemudian mengulangi pada bagian yang lain.

Klien orang Afrika-Amerika berambut tebal, kasar, yang seringkali menjadi sangat kering dan rapuh. Karena rambut dan kulit kepala memiliki kecenderungan menjadi kering, maka mungkin diperlukan penyisiran sehari-hari, penyikatan yang lembut, dan aplikasi produk pelembab (Andrews, Boyle, 1995). Dengan demikian perawat harus berhati-hati terhadap penggunaan praktik perawatan rambut yang merusak rambut. Mengepang setiap hari lebih merusak daripada “cornrow”. Kepangan yang kuat menyebkan kebotakan. Penggunaan sisir panas untuk meluruskan rambut dapat menyebabkan peradangan kronis dan mengejutkan kulit kepala yang permanen. Aplikasi pelurusan rambut dengan zat alkalin menyebabkan rambut menjadi rapuh.

  1. Bersampo

Frekuensi bersampo tergantung rutinitas pribadi sehari-hari dan kondisi rambut. Perawat harus mengingatkan klien yang hospitalisasi yang tinggal di tempat tidur, perspirasi berlebihan, atau pengobatan yang meninggalkan darah atau larutan pada rambut memerlukan kegiatan bersampo lebih sering. Untuk klien yang berada di rumah, tantangan terbesar bagi perawat untuk menemukan cara klien bersampo tanpa cedera. Misalnya, klien lansia duduk pada kursi bak dan menggunakan pipa semprot yang dipegang daripada berbaring di atas sehingga dapat mencapai kran.

Jika klien mampu untuk mandi shower atau mandi, biasanya rambut dapat dikeramas tanpa kesulitan. Kursi shower dapat digunakan pada klien yang dapat berjalan tapi menjadi lelah atau pusing. Pipa semprot yang dapat dipegang memungkinkan klien mencuci rambutnya selama di bak mandi atau shower. Klien yang diperbolehkan duduk di kursi biasanya rambutnya disampo di depan bak. Jika klien hanya dapat duduk di sisi tempat tidur adalah memungkinkan untuk menyampo rambut pada klien mencondong ke depan di atas bak cuci. Bagaimanapun, penekukan dibatasi atau kontraindikasi pada kondisi tertentu (mis. Operasi mata dan operasi total penempatan kembali pinggul). Dalam situasi ini, perawat perlu mengajarkan klien tingkatan penekukan yang diperbolehkan.

Jika klien tidak mampu duduk tapi dapat bergeser, perawat dapat memindahkan klien pada brankar untuk transportasi ke bak mandi atau shower yang dilengkapi dengan semprotan yang dipegang. Perawat meletakkan handuk atau bantal kecil di bwah kepala dan leher klien, yang memungkinkan kepala bergantung di atas tepi brankar. Kewaspadaan diperlukan pada klien yang telah mengalami cedera leher  akibat hiperekstensi leher yang dapat menyebabkan cedera lebih lanjut.

Jika klien tidak mampu duduk di kursi atau berpindah ke brankar maka bersampo harus dilakukan pada klien di tempat tidur. Setelah bersampo, klien dapat menyukai rambutnya yang digulung dengan alat pengeriting atau diberi gaya. Kebanyakan pusat perawatan kesehatan memiliki pengeriting rambut yang mudah dibawa. Sampo yang kering juga tersedia untuk mengurangi kebutuhan untuk membasahi rambut klien.

Karena rambut orang Afrika-Amerika memiliki kecenderungan alami menjadi kering maka tidak diperlukan bersampo tiap hari. Perawat menanyakan berapa kali klien bersampo. Normalnya penting pada orang Afrika-Amerika bersampo hanya sekali atau dua kali seminggu, atau hanya sebulan sekali. Klien dengan “cornrow” dapat disampo rambutnya tanpa menghancurkan kepangan (Andrews, Boyle, 1995). Sampo cair cenderung membuat rambut lebih keriting dan lebih sulit disisir. Sampo yang ringan disukai jika mereka memiliki rambut yang diluruskan.

Rambut klien menjadi lebih kering dan lebih rapuh dengan bertambahnya usia. Seringkali lansia bersampo hanya sekali seminggu. Perawat yang bekerja pada fasilitas perawatan yang besar atau rumah perawatan harus yakin rambut klien disisir dengan teliti dan diberi gaya setiap hari.

  1. Pencukuran

Pencukuran rambut yang berada di bagian wajah dapat dilakukan setelah mandi atau bersampo. Wanita lebih menyukai untuk mrncukur di kakinya atau aksila selama mandi. Ketika membantu klien, perawat harus memperhatikan untuk menghindari pemotongan dengan pisau cukur pada klien. Klien yang ingin bunuh diri tidak diperbolehkan menggunakan pisau cukur. Klien mudah berdarah, seperti yang menerima medikasi antikoagulan (heparin atau Coumadin), dosis tinggi aspirin, atau obat anti peradangan nonsteroidal, dan gangguan pendarahan (hemophilia atau leukimia) diinstrusikan untuk menggunakan pisau cukur listrik. Sebelum menggunakan pisau cukur elektrik, perawat memeriksa bahaya listrik.

Ketika pisau cukur digunakan untuk bercukur, kulit harus diperhalus untuk mencegah tarikan, goresan, atau pemotongan. Misalnya, meletakkan lap badan yang hangat diatas muka klien pria selama beberapa menit, diikuti dengan penggunaan krim cukur atau busa sabun yang lembut, akan memperhalus kulit secara efektif. Jika klien pria tidak mampu bercukur sendiri mukanya maka perawat dapat membantu mencukur. Untuk menghindari penyebab ketidaknyamanan atau potongan pisau cukur, perawat memegang pisau cukur pada sudut 45 derajat pada kulit dan dengan halus menarik kulit tegang ketika menggunakan gerakan yang pendek, kuat searah dengan pertumbuhan rambut. Gerakan pendek, kea rah bawah bekerja paling baik untuk mengurangi rambut di atas bibir. Seringkali klien dapat menjelaskan cara terbaik untuk menggerakkan pisau cukur pada kulit. Setelah bercukur diselesaikan, perawat mencuci keseluruhan muka klien untuk mengangkat sabun dan rambut. Setelah mengeringkan muka, perawat membantu penggunaan bedak atau losion setelah bercukur pada muka klien.

  1. Perawatan Kumis dan Jenggot

Klien pria yang berkumis dan berjenggot memerlukan perawatan sehari-hari. Menjaga kebersihan daerah tersebut penting karena partikel makanan dengan mudah berkumpul di rambut. Jika klien tidak mampu merawat diri mereka sendiri, perawat harus memotong sedikit, menyisir, atau mencuci jenggot atau kumis ketika diperlukan atau jenggot tanpa izin klien.

 

  1.          Evaluasi

Evaluasi tindakan asuhan keperawatan untuk perawatan rambut klien berdasarkan hasil yang diharapkan (mis. Menyatakan rasa nyaman secara verbal atau mendemonstrasikan perawatan yang benar), dan tujuan perawatan. Perawat menggunakan ukuran evaluative, seperti meminta klien mendemonstrasikan praktik perawatan rambut atau merawat kembali kondisi rambut dan kulit kepala, untuk menentukan keberhasilan intervensi perawatan.

  1. Tentukan jika ada resiko yang mungkin kontra indikasi dengan bersampo atau pengaturan posisi. Kaji ulang pesan dokter yang menentukan pemberian medikasi sampo.
  2. Jelaskan prosedur pada pasien.
  3. Persiapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan.

 

  1. Sisir 2 buah
  2. Handuk 2 buah
  3. Waslap 1 buah atau kain kasa
  4. Shampo
  5. Cucing
  6. Perlak atau zeil dan pengalasnya ( handuk )
  7. Talang karet
  8. Kom kecil berisi kasa dan kapas
  9. Bengkok berisi larutan desinfektan ( lisol 2-3 % )
  10. Celemek plastik untuk perawat
  11. Gayung bermulut lancip
  12. Ember berisi air hangat dan tutupnya
  13. Ember kosong 2 buah untuk membuang air kotor dan untuk meletakkan handuk yang basah habis dipakai
  14. Tempat seperti baskom yang telah berisi air hangat agar tidak mengambil di ember
  15. Kain pel
  16. Selimut mandi
  17. Perlengkapan BAB / BAK

 

  1. Beritahu pasien
  2. Alat-alat didekatkan ke pasien, lalu pakai celemek
  3. Cuci tangan
  4. Pasang selimut mandi
  5. Atur posisi pasien seenak mungkin dengan kepala dekat sisi tempat tidur
  6. Memasang perlak / zeil dan pengalas / handuk dibawah kepala pasien
  7. Pasang talang dan diarahkan ke ember tempat menampung
  8. Beri kain pel dibawah ember
  9. Sumbat telinga dengan kapas dan tutup mata pasien dengan kasa / waslap
  10. Tutup dada dengan handuk sampai ke leher
  11. Sisir rambut, lalu sisir diletakkan ke bengkok yang telah berisi larutan desinfektan
  12. Beri tahu pasien sebelum menyiram agar pasien tidak kaget
  13. Siram dengan air hangat, gunakan gayung
  14. Tanyakan biasanya pasien menggunakan shampoo apa, lalu cairkan shampoo dengan air ke dalam cucing
  15. Gosok pangkal rambut dengan kasa yang telah diberi shampoo
  16. Pijat dengan ujung jari
  17. Bilas rambut hingga bersih, lalu keringkan dengan handuk
  18. Ambil sumbat telinga dan penutup mata
  19. Angkat talang lalu masukkan ke dalam ember penampung
  20. Kembalikan pasien pada letak semula
  21. Perlak / zeil dan pengalasnya diletakkan diatas bantal
  22. Sisir rambut pasien dan atur sesuai keinginan pasien
  23. Pasien dirapikan kembali dan selimut mandi diangkat
  24. Buka celemek dan letakkan kedalam ember kosong
  25. Kembalika peralatan pada tempatnya
  26. Cuci tangan

dd. Tanyakan pada pasien tentang perasaan terhadap rambut

  1. Inspeksi kondisi rambut
  2. Catat prosedur dan hasil temuan yang berhubungan dengan kondisi rambut atau kulit kepala

 

2.3.   Personal Hygiene pada Mata

2.3.1.   Definisi

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya menegetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang dan gelap.

Mata biasanya tidak memerlukan tindakan hiegene khusus, karena cairan lakrimal secra kontinu membasahi dan mencuci mata, kelopak mata, serta bulu mata mencegah masuknya partikel asing ke mata. Namun, interfensi khusus diperlukan untuk klien yang tidak sadar atau klien dalam tahap pemulihan pada pembedahan       mata atau mngalami cidera mata, iritasi, atau infeksi pada mata.

Pada klien yang tidak sadar, refleks kedip mungkin tidaka ada, dan rabas mata yang berlebihan terakumulasi di tepi kelopak mata. Pada klien yang mengalami trauma atau infeksi mata, rabas atau drainase mata yang berlebihan umum di jumpai. Sekresi yang berlebihan pada bulu mata harus segera dibersihkan sebelum mengering dan menjadi krusta di bulu mata. Klien yang menggunakan kacamata, lensa kontak, atau mata palsu juga memerlukan informasi dan perawatan dari perawat.

2.3.2. Manfaat

Perawat dapat mengidentifikasi tindakan keperawatan yang akan membantu klien mempertahankan integrsi struktur mata atau prostesis mata dan mencegah cedera dan infeksi.

Alat dan bahan untuk personal hygiene mata :

  1. Lidi kapas / cotton bud
  2. Kapas lembut
  3. Waslap
  4. Tissue lembut
  5. Sarung tangan
  6. Bengkok
  7. Wadah untuk air hangat

Langkah kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Pakai sarung tangan bersih
  3. Lalu bersihkan sekresi kering  dengan menggunakan lidi kapas yang telah dibasahi dengan air hangat
  4. Setelah sekresi lunak, bersihkan dengan kapas lembut dari kantus dalam ke kantus luar
  5. Kemudian buang  lidi kapas dan kapas lembut yang telah dipakai pada bengkok
  6. Setelah itu ambil waslap yang dibasahi dengan air hangat lalu bersihkan mata dari kantus dalam ke kantus luar
  7. Keringkan mata pasien dengan menggunakan tissue kering yang lembut dengan perlahan-lahan
  8. Jika refleks kornea klien koma terganggu perawatan mata penting dilakukan untuk tetap melembabkan area kornea yang terpajan udara. Berikan kompres lembab utnuk menetupi mata setiap 2 samapi 4 jam. Bersihkan mata dengan lidi kapas basah, kemudian basuh dari bagian dalam kantus keluar. Gunakan lidi kapas yang baru setiap kali membasuh. Berikan salep mata atau air mata buatan ke dalam kelopak mata bawah, untuk menjaga mata tetap lembab. Apabila refleks kornea klien tidaka ada, pertahankan kelembaban mata dengan memberikan air mata buatan dan lindungi mata dengan alat pelindung mata. Lalu pantau adanya kemerahan, eksudat pada mata.

Alat dan bahan untuk kacamata :

  1. Kacamata pasien
  2. Tissue lembut
  3. Wadah dan air hangat

Langkah kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Lensa kacamata dapat dibersihkan dengan air hangat dan dikeringkan dengan tissue lembut yang tidak akan menggores lensa.
  3. Jika tidak sedang digunakan, kacamata harus disimpan ke laci temapt tidur klien.

 

Alat dan bahan untuk lensa kontak :

  1. Lensa kontak.
  2. Wadah / slot lensa kontak
  3. Cairan lensa kontak

Langkah kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Letakkan lensa kontak pada wadah khusus untuk menyimpan lensa kontak. Isi wadah dengan  cairan lensa kontak, sehingga lensa disimpan dalam keadaan basah. Masing-masing kontainer lensa kontak memiliki slot atau cangkir dengan label yang diberi petunjuk untuk lensa kontak yang kanan dan yng kiri.
  3. Simpan lensa sesuai dengan tempatnya akan mempermudah penggunaan lensa pada mata yang tepat.

Alat dan bahan untuk mata palsu :

  1. Mata palsu
  2. Wadah dan air hangat
  3. Larutan pengganti
  4. Kapas
  5. Wdah untuk meletakkan mata palsu

Langkah kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Bersihkan mata palsu dengan air hangat kemudian letakkan pada wadah yang berisi air atau larutan pengganti.

2.3.3.   Bersihkan kantung dan jaringan sekitar mata dengan kapas

 

2.4. Personal Hygiene pada Telinga

2.4.1.   Hygiene Telinga

Mempunyai implikasi untuk ketajaman pendengaran bila substansi lilin atau benda asing yang berkumpul pada kanal telinga luar, yang mengandung konduksi suara. Khususnya pada lansia rentan terkena masalah ini. Perawat harus sensitif pada isyarat perilaku apapun yang mengindikasikan kerusakan pendengaran.

2.4.2.  Membersihkan Telinga

Prosedur pertama yaitu pemasukan 3 tetes gliserin pada waktu tidur untuk melembutkan lilin, dan 3 tetes hydrogen peroksida dua kali sehari untuk melunakkan lilin. Kemudian pemasukan kira – kira 250 ml air hangat (37 derajat celcius) ke kanal telinga luar yang akan membersihkan lilin yang telah lunak secara mekanis. Air dingin atau panas dapat menyebabkan normal atau muntah.

 

2.4.3.  Alat bantu pendengaran

Ada 3 alat bantu pendengaran yang popular.

  1. Alat bantu didalam kanal (in the canal : ITC)

Adalah alat bantu yang terbaru, terkecil, sedikit terlihat dan masuk seluruhnya dengan pas di dalam kanal telinga.

  1. Alat bantu dalam telinga (in the ear : ITE)

Cocok kedalam telinga auditori eksternal dan memberikan penyetelan  yang lebih baik.

  1. Alat bantu di belakang telinga (behind the ear : BTE)

Melingkar sekitar dan dibelakang telinga yang dihubungkan dengan selang plastic pendek, jernih, pada daun telinga dimasukan kedalam kanal auditori eksternal.

 

2.4.4.   Perawatan dan Penggunaan Alat Bantu Pendengaran.

 

  1. Mula – mula gunakan alat bantu pendengaran selama 15 sampai 20 menit; kemudian secara bertahap tingkatkan waktu yaitu 10 sampai 12 jam.
  2. Setelah dimasukkan, putar alat bantu secara perlahan sepertiga sampai setengah volume
  3. Suara bersiul menunjukkan insersi lekukan telinga yang tidak tepat.
  4. Atur volume pada tingkat yang nyaman untuk berbicara pada jarak 1 m.
  5. Jangan gunakan alat bantu dibawah lampu panas; pengering rambut; atau pada cuaca basah, dingin.
  6. Baterai habis 1 minggu dengan pemakaian harian yaitu 10 sampai 12 jam.
  7. Lepas atau putuskan baterai jika tidak digunakan.
  8. Ganti lekukan telinga setiap 2 sampai 3 tahun.

 

4.4  Perawatan Alat Bantu pendengaran di Belakang Telinga

 

  1. Kaji pengetahuan klien dan kegiatan pembersihan rutin dan perawatan alat       bantu pendengaran
    1. Tentukan apakah klien dapat mendengar secara jelas dengan penggunaan alat bantu dengan cara bicara perlahan dan jelas dalam tekanan secara normal.
    2. Minta klien member saran setiap tips perawatan tambahan.
    3. Kaji apakah alat bantu pendengaran bekerja dengan memindahkan dari telinga klien.
    4. Periksa untuk memastikan selang penghubung plastic tidak terlilit atau retak
    5. Periksa untuk memastikan apakah lipatan telinga retak atau mempunyai pinggir yang kasar
    6. Periksa adanya akumulasi serumen sekitar lipatan telinga dan menyumbat.
    7. Persiapkan peralatan dan bahan – bahan yang digunakan.
    8. Membersihkan alat bantu pendenagran.
    9. Memasukan alat bantu pendengaran.
    10. Kembali ke klien untuk mengkaji apakah pendengaran jelas atau alat bantu pendengaran menghasilkan suara balik yang tidak sesuai.
    11. Dokumentasi bahwa alat bantu telah dilepas dan disimpan jika klien akan menjalani pembedahan atau prosedur khusus.
    12. Laporkan kesulitan yang dialami klien dalama berkomunikasi dengan staf keperawatan.
    13. Catat pada kardeks keperawatan bahwa klien menggunakan alat bantu pendengaran.

 

5.   Personal Hygiene pada Hidung

Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi menghirup udara pernafasan, menyaring udara,menghangatkan udara pernafasan, juga berperan dalam resonansi suara.Hidung merupakan alat indera manusia yang menanggapi rangsang berupa bau atau zat kimia yang berupa gas.di dalam rongga hidung terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi dengan sel-sel pembau.setiap sel pembau mempunyai rambut -rambut halus(silia olfaktori)di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembab rongga hidung.

5.1.Kegunaan

Kebersihan hidung sangat diperlukan karena hidung merupakan organ penting       dalam proses respirasi. Bila sekresi hidung tidak dibersihkan, hidung akan tersumbat       dan dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan.

5.2.Hygiene hidung

Hidung biasanya tidak diberi perawatan khusus, karena biasanya klien secara         rutin membersihkan sekresi hidung dengan menghembuskannya ke kertas tisu yang        lembut. KEtika sekresi lubang hidung eksternal mengering, harus dibersihkan dengan         lidi kapas yang dibasahi dengan air. Lidi kapas dimasukkan tidak lebih dari panjang kapas, bila terlalu dalam dapat mencederai mukosa.

2.5.        Alat dan bahan :

  1. Lidi kapas
  2. Tisu lembut
  3. Handuk kecil
  4. Baskom
  5. Air hangat

2.6.        Langkah :

  1. Hidung dibersihkan menggunakan tisu lembut
  2. Untuk bagian dalam hidung, dibersihkan dengan lidi kapas yang dibasahai             dengan air
  3. Memasukkan lidi kapas secara perlahan dan tidak lebih dari panjang kapas untuk menghindari cedera mukosa
  4. Setelah itu hidung dapat dibasuh dengan handuk kecil yang dibasahi air, untuk      membersihkan sisa kotoran.

 

  1. Personal Hygiene pada Perinium.

 

Kebersihan vagina harus dilakukan karena beberapa alasan, karena vagina merupakan daerah yang dekat dengan tempat buang air kecil dan tempat buang air besar yang tiap hari kita lakukan.Adanya luka di daerah perineum yang bila terkena kotoran dapat terinfeksi. Vagina merupakan organ terbuka sehingga memudahkan kuman yang ada di daerah tersebut menjalar ke rahim. Kebersihan perineum  membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman.

 

Membersihkan perineum sangat penting bagi pasien yang mengalami ketidak mampuan dalam membersihkan perineum sendiri,baik pasien yang mengalami koma,atau ketidak sadaran diri,sebab pada setiap orang yang hidup tentu melakukan ekskresi,jadi sangat di perlukan bantuan perawat guna membersihkan perineum guna menjaga kebersihan perineum pasien,dan mempercepat kesembuhan pasien.begitu juga pada pasien ibu hamil operasi cesar,sangat diperlukan guna membersihkan dan menjaga kebersihan jahitan pasca operasi pada pasien.baik pada pasien pria yang memakai kateter untuk menghindari menempelnya kuman pada keteter pasien,dan menjaga kebersihkan pernium pasien.

6.1   Persiapan Alat

a.  Alas pantat (perlak)

b.  2 kain handuk

c.  2 selimut mandi

d.  Bengkok

e.  Wash lap

f.  Baskom berisi air

g.  Tisu toilet

h. Sepasang  handskun

6.2  Prosedur Personal Hygiene pada Perinium Wanita.

  1. Sebelum dilakukan vulva hygiene hendaknya perawat memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang hal yang akan dilakukan kepada klien.
  2.  Pintu dan jendela ditutup dan jika perlu pasanglah sampiran
  3.  Alat-alat didekatkan pada pasien dan pasien diberitahu tentang hal yang akan dilakukan
  4.  Perawat mencuci tangan
  5. Pakaian pasien bagian bawah dikeataskan atau dibuka.
  6. Pengalas dan dipasang dibawah bokong pasien, sikap pasien dorsal recumbent
  7. Perawat memakai sarung tangan (tangan kiri)
  8. membersihkan bagian paha terlebih dahulu dengan sabun dan air , mengosok secara merata dari atas ke bawah.
  9. Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan untuk membersihkan daerah sekitar anus terlebih dahulu, dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah vulva.dalam membersihkan vagina ,bersihkan dulu bagian labiya mayora menggunakan jari telunjuk pada salah satu sisi sebelah kiri dahulu,kemudian labiya mayora sebelah kanan menggunakan sisi telunjuk yang belum terkena, kemudian labia minora dimulai dari kiri lagi tetapi menggunakan jari jempol,bagian kanan menggunakan bagian jempol yang berbeda lagi.sehingga semuanya menggunakan  bagian yang nerbeda dalam membersihkannya.
  10. kemudian membilas bagian yang dibersihkan tadi.dengan mengganti washlap,sampai benar-benar bersih.
  11. Mengeringkan bagian yang telah di bersihkan tadi menggunakan handuk secara halus dan lembut,sampai benar-benar kering.
  12. Setelah selesai pasien dirapihkan dan posisinya diatur kembali
  13. Peralatan dibereskan, dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula.

6.3                 Prosedur Personal Hygiene pada Perinium Pria.

  1. Pintu dan jendela ditutup dan jika perlu pasanglah sampiran
  2. Alat-alat didekatkan pada pasien dan pasien diberitahu tentang hal yang akan dilakukan
  3.  Perawat mencuci tangan
  4.  Pakaian pasien bagian bawah dikeataskan atau dibuka.
  5. Mmemasang selimut pada pasien pada bagian tubuh atas perinieum,dan bagian bawah perineum,dan memasang perlak di bagian bokong pasien
  6.  Perawat memakai sarung tangan (tangan kiri).
  7. Membersihkan bagian paha terlebih dahulu dengan sabun dan air , mengosok secara merata dari atas ke bawah.
  8. Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan untuk membersihkan daerah sekitar kepala penis  terlebih dahulu, memutar secara halus dan lembut, kemudian membersihkan daerah batang penis,utamakan bagian belakang ,bersihkan skrotum secara merata,utamakan juga bagian belakang ,secara bersih.
  9. Kemudian membilas bagian yang dibersihkan tadi.dengan mengganti washlap,sampai benar-benar bersih.
  10. Mengeringkan bagian yang telah di bersihkan tadi menggunakan handuk secara halus dan lembut,sampai benar-benar kering.
  11. Setelah selesai pasien dirapihkan dan posisinya diatur kembali
  12. Peralatan dibereskan, dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula.

 

 

  1. Personal Hygiene pada Kaki dan Kuku.

 

7.1  Definisi

Kaki dan kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Perawatan dapat digabungkan selama mandi atau pada waktu yang terpisah. Seringkali, orang tidak sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri atau ketidaknyamanan. Masalah dihasilkan karena perawatan yang salah atau kurang terhadap kaki dan    tangan seperti menggigit            kuku atau memotong yang tidak tepat, pemaparan    dengan zat-zat kimia yang tajam, dan pemakaian sepatu yang tidak pas. Ketidaknyamanan dapat mengarah pada stress fisik dan emosional.

Kaki penting untuk kesehatan fisik dan emosional. Nyeri pada kaki dapat menyebabkan seseorang berjalan berbeda, yang menyebabkan       ketegangan pada kelompok otot yang berbeda. Banyak orang harus berjalan atau berdiri nyaman untuk melakukan pekerjaan mereka dengan efektif.( Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik, E/4, Vol.2,Potter and Perry, hal 1360)

Kaki sangat penting untuk ambulasi dan memerlukan perhatian           `khusus walaupun klien tirah baring. Maing-masing kaki terdiri dari 26 tulang, 107 ligamen dan 19 otot. Struktur-struktur ini berfungsi bersama-sama untuk berdiri   dan

berjalan. ( Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan      Praktik, E/7, Vol.2, Kozier, Erb, Berman, Synder, hal 119)

 

1..3 Proses Keperawatan dan Perawatan Kaki

 

  1. Pengkajian Fisik

Masing-masing kaki dan jari kaki diinspeksi terhadap bentuk, ukuran, dan adanya lesi serta dipalpasi untuk mengkaji adanya area nyeri tekan, edema, dan status sirkulasi. Normalnya, jari-jari kaki lurus dan datar. Tabel di bawah ini menjabarkan metode pengkajian fisik untuk kaki.

 

Pengkajian Pada Kaki

 

Metode Temuan Normal Penyimpangan dari normal
Inspeksi semua permukaan kulit, terutama di sela jari, untuk kebersihan, bau, kulit kering, imflamasi, pembengkakan, abrasi, atau lesi lainnya. Kulit utuh.

Tidak ada pembengkakan atau inflamasi.

Sangat kering.

Area inflamasi atau bengkak (kapalan, kalus).

Fisura.

Kulit bersisik dan pecah-pecah (Kulit atlet).

Kutil telapak kaki.

Palpasi permukaan anterior dan posterior pada pergelangan kaki dan kaki untuk adanya edema. Tidak ada pembengkakan. Bengkak atau pitting edema.
Palpasi denyut dorsalis pedis pada permukaan dorsal kaki. Denyut kuat, teratur pada kedua kaki. Nadi lemah atau tidak ada.
Bandingkan suhu kulit pada kedua kaki. Suhu kulit hangat. Suhu kulit dingin pada salah satu atau kedua kaki.

 

Masalah Umum Kaki

Karakteristik Implikasi Intervensi
Kalus.

Bagian yang mengeras dari epidermis terdiri dari massa sel tanduk dan keratotik. Biasanya datar, tidak berasa nyeri, dan ditemukan di bawah permukaan kaki atau telapak tangan. Masalah disebabkan oleh friksi atau tekanan local.

Kondisi dapat menyebabkan ketidaknyamanan jika memakai sepatu yang ketat. Perawat menyarankan klien untuk mengenakan sarung tangan jika menggunakan alat-alat atau benda yang menimbulkan friksi pada permukaan telapak tangan. Perawat mendorong klien untuk mengenakan sepatu yang nyaman. Perawat merendam kalus pada air hangat dan garam Epsom untuk melunakkkan lapisan sel. Penggunaan krim atau losion yang mengurangi pembentukkan ulang. Dorong klien untuk memenuhi podiatrist.
Katimumul.

Keratotis disebabkan friksi dan tekanan dari sepatu. Hal ini terlihat dengan jelas pada jari kaki, di atas penonjolan tulang. Katimumul biasanya berbentuk kerucut, bulat, dan naik.

Bentuk kerucut menekan dermis di bawahnya, yang akan menjadi tipis dan lunak. Nyeri akan meningkat jika menggunakan sepatu ketat. Jaringan dapat menjadi menempel dengan tulang jika dibiarkan tumbuh. Klien akan mengalami perubahan cara berjalan karena nyeri. Pembedahan mungkin diperlukan, tergantung pada keparahan nyeri dan ukurannya. Perawat menghindari penggunaan bantalan oval korn, yang meningkatakan tekanan pada jari kaki dan mengurangi sirkulasi.
Kutil pada Kaki (Plantar Wart).

Luka yang menjamur terlihat pada tumit kaki dan disebabkan oleh virus papiloma.

Kutil dapat menular. Hal ini sangat nyeri dan sulit berjalan. Pengobatan yang dipesan dokter termasuk pengunaan asam salisilat, elektrodesikasi (pembakaran dengan percikan listrik), atau pembekuan dengan karbondioksida padat.
Infeksi jamur kaki (Tinea Pedis).

Tinea pedis adalah infeksi jamur pada kaki ; ketidaksamaan sisi dan keretakan kulit terjadi antara jari dan tumit kaki. Kaki yang melepuh kecil berisi cairan dapat terlihat. Masalah disebabkan pemakaian alas kaki yang ketat.

Infeksi jamur dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain, khususnya tangan. Hal ini sangat menular dan seringkali kambuh. Kaki seharusnya berventilasi baik. Pengeringan kaki dengan baik setelah mamndi menggunakan bedak membantu mencegah infeksi. Mengenakan kaos kaki atau stocking yang bersih mengurangi insiden. Dokter mungkin memesan penggunaan griseofulvin, miconazole, atau tolnaftate.
Bau Kaki.

Bau kaki adalah akibat keringat yang berlebihan yang meningkatkan perkembangan mikroorganisme.

Kondisi dapat menyebabkan ketidaknyamanan akibat keringat yang berlebihan. Pencucian yang sering, penggunaan deodorant kaki dan bedak, dan pemakaian alas kaki yang bersih. Mencegah atau mengurangi masalah.
     
     

 

  1. Diagnosis.

Beberapa diagnosis keperawatan dapat ditegakkan untuk klien yang memiliki masalah kaki dan perawatan kaki. Judul diagnosis, beserta factor yang berhubungan atau etiologi yang sering muncul adalah sebagai berikut.

 

  1. 1.  Defisit Perawatan Diri : Higiene ( Perawatan Kaki) yang berhubungan

dengan :

a. Gangguan penglihatan.

b. Gangguan koordinasi tangan.

c. Faktor penyebab lainnya.

2. Resiko Kesurakan Integrasi Kulit yang berhubungan dengan

a. Gangguan perfusi jaringan : perifer (yang berhubungan dengan edema,           ketidakadekuatan sirkulasi arteri.)

b. Sepatu yang kesempitan

3. Resiko infeksi yang berhubungan dengan

a. Kerusakan integritas kulit ( cantengan, kapalan, trauma)

b. Defisit keperawatan kaki dan kuku.

4. Defisiensi pengetahuan ( perawatan kaki diabetik) yang berhubungan

dengan

  1. Kurang pengetahuan atau aktifitas belajar mengenai perawatan kaki

diabetik.

  1. Baru mengetahui diagnosis medis yang ditegakkan (diabetes dan

pentingnya praktek hygiene kaki.

c. Perencanaan

Perawat dapat memberikan pelayanan perawatan kuku dan kaki      selama mandi di bak atau pada waktu yang terpisah, menurut pilihan klien.Banyak perawat komunitas kesehatan rumah mengunjungi klien        di rumah semata-mata untuk memberikan perawatan kuku dan kaki.

Jika kuku klien sangat keras atau jika klien tidak mampu      melakukan perawatan kuku pribadi maka podiatrist dilatih dalam    pengobatan masalah kuku dan kaki. Tujuan klien yang menerima         perawatan kuku dan kaki meliputi hal-hal berikut :

  1. Klien akan memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang lembut.
  2. Klien akan mencapai rasa nyaman dan bersih.
  3. Klien akan berjalan menanggung berat badan dengan normal.
  4. Klien akan memahami dan melakukan metode perawatan kaki         dan kuku dengan benar.

 

 

  1. Implementasi

 

Perawatan kaki dan kuku termasuk perendaman untuk melembutkan kutikula dan lapisan sel tanduk, pembersihan dengan teliti, pengeringan dan pemotongan kuku yang tepat.Perawat dapat memberikan perawatan di tempat tidur untuk klien imobilisasi atau mendudukkan klien di kursi. Perawat harus menyisihkan waktu

Selama prosedur untuk mengajarkan klien dan keluarganya tehnik membersihkan dan pemotongan kuku yang tepat dan memberi saran untuk memilih alas kaki yang tepat. Dengan memperbolehkan klien melakukan perawatan kaki dan kuku, perawat dapat menekankan prinsip yang berhubungan untuk meningkatkan sirkulasi yang baik dan mencegah infeksi serta cedera jaringan.

Klien diabetes atau seseorang berpenyakit vaskular perifer berisiko untuk masalah kaki dan kuku akibat suplai darah perifer yang kurang baik ke kaki. Meskipun perawatan kaki yang terus-menerus dapat mencegah amputasi jari, penelitian menunjukkan bahwa klien tidak mempelajari perawatan yang tepat (Christensen dkk, 1991)’ Selain itu, sensasi dikaki dapat berkurang. Perawat harus mengobservasi perubahan yang menunjukkan neuropati perifer atau insufisiensi vascular.

Trauma pada kaki diabetes seringkali tidak diketahui. Dengan adanya kerusakan kulit maka infeksi lebih mudah berkembang karena sirkulasi yang buruk. Perawat menyarankan klien untuk menggunakan pedoman berikut:

 

1.Periksa kaki setiap hari, meliputi bagian atas dan telapak kaki, tumit,           dan      daerah di antara jari. Penggunaan cermin membantu memeriksa kaki dengan     teliti, atau meminta anggota untuk memeriksa keluarga        setiap hari.

2. Mencuci dan merendam kaki setiap hari menggunakan air hangat-              hangat kuku    tidak lebih dari 37℃. Minta klien yang sendirian di rumah menggunakan   thermometer untuk mengukur suhu air karena          sensasi kulit mereka rusak.      Secara merata tapakkan kaki sampai    kering, dan keringkan dengan baik di             antara jari. Gunakan    lapisan pelembab yang tipis.

3. Jangan menotong katimumul atau kalus atau menggunakan pembersih.        Konsultasi dengan dokter atau podiatrist. Gunakakn moleskin pada           daerah kaki yang di bawah gesekan.

4. Jika kaki berkeringat, gunakan bedak kaki yang lunak. Gunakan                  sepatu yang berporos sebelah atasnya.

5. Jika ditemukan kekeringan di sepanjang kaki atau antarajari, gunakan          lanolin, baby oil, atau bahkan minyak jagung dan gosok secara lembut    di kulit. Jangan terlalu basah.

6, Mengikir jari kaki lurus dan kotak; jangan menggunakan gunting atau          klip. Konsultasi dengan podiatris jika diperlukan.

7. Jangan menggunakan sedian bebas untuk mengobati infeksi jamur   kaki atau kuku jari yang. masuk ke dalam. Konsultasi dengan dokter        atau podiatris.

8. Hindari pemakaian stoking elastis, kaos kaki setinggi lutut, atau                   mengikat kaos kaki. Jangan menyilangkan kaki. Hal ini merusak                      sirkulasi ekstremitas bawah.

9. Gunakan kaos kaki dan stoking yang bersih setiap hari. Ganti kaos               kaki dua kali sehari jika kaki berkeringat bdnyak. Kaos kaki harus      bebas lubang atau jahitan yang menyebabkan tekanan.

10. Jangan berjalan dengan kaki tanpa sepatu atau kaos kaki.

ll. Gunakan sepatu yang pas. Alas sepatu harus fleksibel dan tidak licin.           Kain wol dapat digunakan di antara jarii yang bergesekan atau saling      melengkapi. Sepatu harus kuat, tertutup, dan tidak restriktif pada                         kaki. Jika klien mengalami penurunan sensasi, periksa bagian dalam         sepatu setiap hari untuk melihat adanya kerikil, benda asing, atau       sesuatu yang keras.

12. Sepatu ekstra-lebar dan ekstra-dalam akan mengakomodasi jari yang           cacat, dan bantalan alas akan mendistribusikan kembali tekanan                  kepala metatarsal yang menonjol (Young, Young, 1994).

13. Jangan menggunakan sepatu baru untuk waktu yang panjang.                      Gunakan untuk waktu yang singkat beberapa hari untuk melatihnya.

l4. Latihan teratur untuk meningkatkan sirkulasi pada kaki. Jalan                      perlahan dair angkat, putar, lenturkan dan panjangkan kaki pada                    pergelangan kaki. Ayunayunkan kaki di sisi tempat tidur 1 menit, dan      kemudian panjangkan kedua kaki dan tahan paralel pada tempat tidur             ketika tidur terlentang selama I menit, dan, akhirnya, istirahat 1 menit       (Jordan, Nickerson, 1982).

15. Jangan menggunakan botol air panas atau bantalan yang panas pada            kaki. Gunakan kaos yang hangat atau lebih baik penutup tambahan.

16. Segera bersihkan luka kecil dan keringkan secara teliti. flanya                      antiseptik yang ringan (mis. salep Neosporin) yang seharusnya                            digunakan pada kulit. Hindari iodine atau Mercurochrome. Hubungi      dokter untuk mengobati luka yang lambat sembuh atau laserasi.

 

d. Evaluasi

Respons klien terhadap perawatan kaki dan kuku dievaluasi dengan baik    selama beberapa hari atau minggu. Jika klien memiliki masalah apapun, hal ini membutuhkan waktu bagi perubahan untuk meningkatkan. Evaluasi berdasarkan

hasil yang diharapkan memerlukan perawat untuk menentukan keberhasilan intervensi. Misalnya, jika klien terus-menerus memiliki rasa tidak nyaman selama

berjalan maka memerlukan tipe alas kaki yang berbeda. Perawat juga menginstruksi klien dengan cara mengevaluasi praktik perawatan kaki dan kuku pribadi.

 

Perawatan Kuku dan Kaki

 

No. LANGKAH RASIONAL
1. Identifikasi klien yang beresiko untuk masalah kaki dan kuku, termasuk hal berikut :  
  1. Lansia
Perubahan dalam fungsi sensori dan motorik dengan penuaan yang mengganggu praktik perawatan diri. Perubahan fisiologis pada lansia mengubah kondisi kaki dan kuku.
  1. Klien diabetes
Perubahan vaskular yang berhubungan dnegan diabetes dapat mengurangi aliran darah ke jaringan perifer.
  1. Klien gagal jantung atau penyakit ginjal
Kondisi ini menyebabkan edema jaringan dan penurunan lairan darah ke ekstremitas.
  1. Klien cedera serebrovaskular
Paralisis residual atau penurunan sensasi menyebabkan pola berjalan yang abnormal akibat friksi dan tekanan pada kaki.
2. Dapatkan pesan dokter untuk pemotongan kuku jika kebijakan institusi mengharuskannya Kuku klien dapat terpotong dengan tidak sengaja. Klien tertentu lebih beresiko infeksi, tergantung pada kondisi medis.
3. Jelaskan prosedur kepada klien, termasuk fakta bahwa perendaman yang tepat membutuhkan beberapa menit. Klien harus mau meletakkan jari tangan dan kaki ke dalam baskom selama 10 sampai 20 menit. Klien menjadi cemas atau lelah.
4. Persiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan.

  1. Baskom
  2. Mangkok piala ginjal
  3. Waslap
  4. Handuk mandi atau handuk muka.
  5. Pemotong kuku.
  6. Stik jingga.
  7. Papan penghalus.
  8. Losion badan.
  9. Karpet alas mandi sekali pakai.
  10. Handuk kertas.
  11. Sarung tangan sekali pakai (tambahan)
 
5. Cuci tangan. Atur peralatan meja pada tempat tidur. Mencegah penundaan. Mengurangi transmisi infeksi.
6. Tarik tirai sekitar tempat tidur atau tutup pintu kamar (jika diinginkan). Mempertahankan privasi klien dan mengurangi kecemasan.
7. Bantu klien duduk di samping tempat tidur jika memungkinkan. Letakkan karpet alas mandi sekali pakai di lantai di abawah kaki klien. Letakkan lampu panggilan dalam jangkauan klien. Duduk di kursi lebih memudahkan pencelupan kaki ke baskom. Karpet mandi melindungi kaki dari terkena kotoran. Lampu panggilan mempertahan keselamatan lingkungan.
8. Isi baskom mandi dengan air hangat. Periksa suhu air. Air hangat melunakka kuku dan sel epidermis yang menebal, mengurangi inflamasi kulit, dan meningkatkan sirkuliasi lokal.Suhu air yang tepat mencegah kulit terbakar.
9. Letakkan baskom pada karpet alas mandi dan bantu klien meletakkan kakinya ke dalam baskom. Klien yang mengalami kelemahan otot atau tremor mempunyai kesulitan memposisikan kaki.
10. Atur meja tempat tidur pada posisi rendah dan letakkan di atas pangkuan klien. Memberikan kemudahan untuk mencegah bahaya tumpah.
11. Isi baskom kecil dengan air hangat dan letakkan baskom di atas handuk kertas di atas meja tempat tidur. Air hangat melunakkan kuku dan sel epidermis yang menebal.

 

12. Bersihkan dengan lembut bagian bawah kuku dan jari tangan dengan stik jingga saat jari dicelupkan. Kemudian pindahkan mangkok dan keringkan jari secara menyeluruh. Stik jingga mengangkat kotoran di bawah kuku yang menyimpan mikroorganisme. Pengeingan yang merata menghambat pertumbuhan jamur dan mencegah maserasi jaringan.
 

13.

 

Dengan pemotong kuku, potong kuku lurus memanjang dengan ujung jari rata. Bentuk kuku dengan mengunakan penghalus.

 

 

Pemotongan lurus menjegah pinggir kuku menjadi robek dan pembentuan ujung kuku yang tajam yang mengiritasi pinggir samping kuku. Pingikiran mencegah kuku terlalu dekat dengan dasar kuku.
14. Tekan kutikula ke belakang secara lembut dengan stik jingga.  
 

15.

 

Pindahkan meja tempat tidur jauh dari klien.

Menyediakan akses yang lebih mudah untuk kaki.
16. .Gunakan sarung tangan sekali pakai dan gosok daerah kalus pada kaki dengan waslap.  
17. Bersikan secara lembut bagian bawah kuku dengan stik jingga. Angkat kaki dari Waskom dan keringkan secara merata.  

Mencegahtransmisi infeksi jamur. Friksi mengangkat lapisan kulit mati.

18. 20. Bersihkan dan potong kuku jari kaki menggunakan prosedur langkah 15-16.  

 

20. Gunakan losionn untuk kaki dan tangan dan kemudian bantu klien kembali ketempat tidur dan posisi yang nyaman.
21. Buka sarung tangan sekali pakai dan buang ada tempatnya. Bersihkan kembali peralatan dan bahan ke tempat yang sesuai. Letakkan inen kotor pada tempatnya. Cuci tangan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s