Medikasi perawatan

PEMBAHASAN

 

2.1 Undang-undang dan Standar Obat

Di Amerika Serikat, perundang-undangan yang mengatur tentang obat dimulai dengan dikeluarkannya Pure Food and Drug Act (Undang-Undang Makanan dan Obat murni) pada tahun 1906. Undang-undang tersebut memfokuskan perhatian pada kemurnian makanan, tetapi juga menetapkan standar resmi obat. Pabrik harus melabel obat dengan tepat dan menjamin bahwa kekuatan dan kemurnian obat sesuai dengan klaim pabrik. Sejak saat itu, hukum federal telah memperluas dan menyaring kontrol pemerintah terhadap penjualan dan distribusi obat, pengujian obat, penamaan obat, pelabelan, dan undang-undang tentang zat kontrol (Controlled substances)

 

  1. Undang-Undang Obat di Amerika Serikat

a.    Tahun 1906         : Pure Food and Drug Act

Isinya adalah merancang standar resmi obat-obatan (USP dan The National Formulary), menspesifikasi standar pelabelan obat.

b.    Tahun 1912         : Sherley Amendment

Isinya  adalah melarang pabrik membuat klaim yang curang tentang kemanjuran dan efek terapeutik obat.

c.    Tahun 1914         : Harrison Narcotic Act

Isinya Secara resmi mengklasifikasi obat-obatan yang diyakini membentuk kebiasaan seperti narkotik mengatur pemasokan, pembuatan, penjualan, dan penggunaan zat narkotik.

d.   Tahun 1938         : Federal Food, Drug, and Cosmetic Act

Isinya adalah menambahkan Homeopathic Pharmacopeia of the United States sebagai standar obat ketiga, mewajibkan preparat obat diakui aman oleh Food and Drug Administration sebelum dipasarkan, menguraikan kritera lebih lanjut tentang pelabelan obat.

e.    Tahun 1945         : Amendment to the Food and Drug Act

Isinya memberi sertifikasi untuk produk biologis yang digunakan sebagai obat (missal insulin,antibiotic) berdasarkan kelompok tertentu, mengizinkan supervise dan inspeksi langsung produksi obat.

f.     Tahun 1952         : Durham Humprey Amendment

Isinya tentang membedakan obat resep dari obat tanpa resep

g.    Tahun 1962         : Kefauver Harris Amendment

Isinya memberi FDA kuasa untuk menyelidiki produksi obat untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya dan menetapkan nama obat yang resmi, member kontrol yang lebih besar terhadap obat-obatan yang diselidiki.

h.    Tahun 1970         : Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act (Controlled Substances Act)

Isinya tentang menetapkan kontrol yang ketat terhadap pembuatan dan distribusi obat yang dikontrol (kepemilikan zat yang dikontrol secara tidak sah tanpa resep),  menetapkan program pemerintah untuk meningkatkan pencegahan dan penanganan ketergantungan obat.

  1.  Undang-Undang Obat di Kanada

a.    Tahun 1908     :  Proprietary or Patent Medicine Act

Isinya menetapkan standar untuk melindungi konsumen dari obat tanpa resep yang tidak aman dan tidak efektif.

b.    Tahun 1953     : Canadian Food and Drug Act

Isinya  melarang penjualan obat yang terkontaminasi, tidak aman, dan label tidak sesuai; merancang standar resmi (Pharmacopeia International, BP, dan Canadian Formulary); menetapkan obat tertentu yang dikontrol penggunaannya; melarang pengiklanan obat resep dan obat yang dikontrol kepada masyarakat; menetapkan standar pelabelan.

c.    Tahun 1961     :  Canadian Narcotio Control Act

Isinya membatasi penjualan, kepemilikan, dan penggunaan narkotik; menetapkan pedoman pelaporan kehilangan akibat pencurian narkotik, menetapkan standar pelabelan dan penyimpanan catatan.

 

  1.  Peraturan Perundang-Undangan Kefarmasian di Indonesia

Berdasarkan periode dikeluarkannya peraturan perundangan di bidang kefarmasian di Indonesia, serta pihak pemerintahan yang telah membuatnya, maka dibedakan menjadi 3 periode, yaitu:

a.    Periode zaman penjajahan Belanda

Peraturan perundang-undangan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda, berpangkal terutama pada “Het Reglement op de Dienst der Volksgezonheid”. Produk periode ini telah banyak yang dicabut, tapi masih ada sekarang yang belum dicabut adalah:

1.    Phaemaceutische Stoffen Keuring Ordonantie (Undang-Undang Pemeriksaan Bahan Farmasi), Staatsblad 1936 No. 660, Isinya adalah sediaan farmasi yang beredar harus sudah dilakukan pemeriksaan/pengujian terlebih dahulu.

2.   Gevarlijike Stoffen Ordonantie (Undang-Undang Bahan Berbahaya), Staatsblad 1949 No. 337, isinya adalah bahan berbahaya yang digunakan oleh manusia dalam rumah tangga tidak boleh mengandung bahan yang beracun dan berbahaya.

3.    Sterkwerkende Genesmiddelen Ordonantie (Undang-undang Obat keras) Staatsblad 1949 No. 419, isinya antara lain obat keras hanya boleh diserahkan kepada pasien oleh apoteker yang memimpin apotek dengan resep dokter.

b.    Periode Pendudukan Jepang

Satu-satunya peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintahan militer Jepang di Indonesia adalah Undang-undang No. 1 tahun 1942, yang menyatakan berlakunya semua peraturan perundang-undangan semasa Pemerintahan Hindia Belanda yang tidak bertentangan dengan kekuasaan militer Jepang.

c.    Zaman Kemerdekaan

Sejak Indonesia merdeka, telah banyak dibuat peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang Pokok kesehatan, Undang-undang tentang apotek, Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menggantikan undang-undang pokok kesehatan, undang-undang tentang apotek dan beberapa undang-undang lainnya. Peraturan pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang apotek, Peraturan pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan, Peraturan pemerintah no. 72 tahun 1998 tentang sediaan farmasi, serta banyak peraturan/keputusan Menteri kesehatan di bidang kefarmasian.

2.2 Sifat dan Cara Kerja Obat

Obat bekerja mengahasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ, tetapi mengubah fungsi fisiologis. Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain, meningkatkan fungsi sel, atau mempercepat atau memperlambat proses kerja sel.

Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membran sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor. Obat-obatan misalnya gas anestesi umum, berinteraksi  dengan membran sel. Setelah sifat sel berubah, obat mengeluarkan pengaruhnya. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. Obat dan reseptor saling berikatan seperti gembok dan kuncinya. Ketika obat dan reseptor saling berikatan, efek terapeutik dirasakan.

Interaksi antara obat dengan reseptor pada sel tubuh dapat mengubah kecepatan kegiatan fisiologis, namun tidak dapat menimbulkan fungsi fisiologis baru.Obat dirancang untuk terikat dengan reseptor pada sel yang menjadi target-nya. Karena sifat yang unik dari setiap reseptor di sel-sel tubuh, maka kemungkinan ikatan antara senyawa obat dengan sel tubuh yang bukan menjadi target-nya relatif kecil. Setiap senyawa memiliki reseptor yang spesifik, dan bisa dianalogikan dengan hubungan antara kunci dan anak kunci (lock and key).

Setelah obat berikatan dengan reseptor-nya, ada dua kemungkinan efek yang ditimbulkan, efek agonis dan efek antagonis. Efek agonis terjadi apabila senyawa obat mengakibatkan efek regulasi di sel tempatnya berikatan. Obat agonis mengaktifkan reseptor untuk menghasilkan respon yang diharapkan.

Efek antagonis terjadi apabila senyawa obat menghalangi terjadinya ikatan antara reseptor sel dengan senyawa regulator-nya dan senyawa tersebut sendiri tidak menghasilkan efek regulasi. Obat antagonis pada dasarnya menghalangi terjadinya aktivasi pada reseptor.

Cara kerja obat ada dua, yaitu :

  1. Absorpsi

Absorbsi adalah  cara molekul obat masuk ke dalam darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat antara lain : rute pemberian obat, daya larut obat, dan kondisi di tempat absorpsi. Setiap rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat, tergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak bisa ditembus zat kimia sehingga absorpsi lambat. Karena obat yang diberikan per oral melewati sistem pencernaaan untuk diabsorpsi maka kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat.

Pada injeksi intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Kondisi ditempat absorbsi mempengaruhi kemudahan obat masuk ke dalam sirkulasi sistemik.

  1. Distribusi

Setelah di absorpsi obat didistribusikan di dalam tubuh ke jaringan dan organ tubuh dan akhirnya ke tempat kerja obat tersebut. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia serta  struktur fisiologis individu yang menggunakannya.

  1. Metabolisme

Biasa disebut biotransformasi. Setelah mengalami absorpsi dan distribusi maka akan mengalami proses pengubahan metabolic atau biotransformasi. Dalam tahap ini, obat diubah menjadi bentuk kurang aktif (detoksikasi). Terjadi di liver maka akan menghasilkan dua bahan metabolit yaitu metabolit aktif yang mempunyai aksi farmakologis dan metabolit non-aktif yang tidak mempunyai aksi farmakologis. Proses ini mengalami gangguan pada pasien yang mengalami penyakit liver, jantung atau ginjal serta pada lansia dan bayi yang mengalami imaturitas enzim metabolit. Biotransformasi obat yang lambat menyebabkan obat terakulmulasi dan dapat menyebabkan keracuan.

  1.   Ekskresi

Proses fisiologis dimana obat dikeluarkan dari tubuh, sebagian besar ekskresi melalui ginjal dalam bentuk urin. Namun bisa juga dikeluarkan melalui paru-paru misalnya obat anastesi, melalui feses, keringat, air mata dan saliva.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kerja Obat

Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat, respon terhadap obat sangat bervariasi. Factor selain karakteristik obat juga memepengaruhi kerja obat. Klien mungkin tidak memberikan respon yang sama terhadap setiap dosis obat yang di berikan. Begitu juga obat yang sama dapat menimbulkan respon yang berbeda pada klien yang berbeda. Berikut ini adalah factor-faktor yang mempengaruhi kerja obat:

  1. Perbedaan Genetic

Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat. Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama. Factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. Akibatnya, anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat

  1. Variasi Fisologis

Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengbah metabolism obat tertentu.hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama. Variasi diurnal pada sekresi estrogen bertanggung jawab untuk fluktuasi siklik reaksi obat yang dialami wanita.

  1. Usia

Usia berdampak langsung pada kerja obat. Bayi tidak memilki banyak enzim yang diperlukan untuk metabolism obat normal. Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan mempengaruhi respon terhadap terapi obat. System tubuh mengalami perubahan fungsi dan struktur yang mengubah pengaruh obat. Perawat harus berupaya untuk meminimalkan efek obat yang berbahaya dan meningkatkan kapasitas fungsi yang tersisa pada klien.

  1. Nutrisi

Apabila status nutrisi klien buruk sel tidak dapat berfungsi dengan normal sehingga biotransformasi tidak berlangsung.seperti semua fungsi tubuh, metabolisme obat tergantung pada nutrisi yang adekuat untuk membentuk enzim dan protein. Kebanyakan obat berikatan dengan protein sebelum didistribusikian ke tempat kerja obat.

  1. Kondisi Lingkungan

Stress fisik dan emosi yang berat akan memicu respon hormonal yang pada akhirnya mengganggu metabolisme obat pada klien. Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan aktivitas enzim.

Kondisi panas dan dingin dapat mempengaruhi respons terhadap obat. Klien hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol tekanan darahnya. Pada cuaca panas, dosis vasodilator perlu kita kurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator perlu ditambah.

Reaksi suatu obat bervariasi, bergantung pada lingkungannya obat tersebut digunakan. Klien yang dilindungi dalam isolasi dan diberi analgesic memperoleh efek peredaan nyeri yang lebih kecil dibandingkan klien yang dirawat di ruang tempat keluarga dapat mengunjungi klien. Contoh lain ialah jika minum alcohol sendirian efek yang timbul hanya mengantuk. Namun minum dengan sekelompok teman membuat individu menjadi ceria dan mudah bergaul.

 

 

  1. Faktor Psikologi

Sejumlah factor psikologi mempengaruhi penggunaan obat dan respon terhadap obat. Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh keluarga. Melihat orang tua sering menggunakan obat-obatan dapat membuat anak menerima obat sebagai bagian dari kehidupan normalnya.

Makna obat atau signifikansi mengonsumsi obat mempengaruhi respon klien terhadap terapi. Sebuah obat dapat digunakan sebagai cara untuk mangatasi rasa tidak aman. Pada situasi ini klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan.

Perilaku perawat saat memberikan obat dapat berdampak secara signifikan pada respon klien terhadap pengobatan. Apabila perawat memberikan kesan bahwa obat dapat membantu,  pengobatan kemungkinan akan memberi efek yang positif, apabila perawat terlihat kurang peduli saat klien merasa tidak nyaman, obat yang diberikan terbukti relative tidak efektif.

  1. Diet

Interaksi obat dan nutrient dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient. Contoh vitamin K merupakan nutrien yang melawan efek warfarin natrium(Cournadin) mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah, klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.

  1. Faktor Kondisi Patologik

Kondisi penyakit yang diderita oleh pasien dapat mempengaruhi kerja obat.

  1. Faktor Toleransi

Pemberian obat yang berulang-ulang akan  menurunnya efek obat

 

  1. Faktor Interaksi Obat

Obat dapat meningkat atau menurun efeknya apabila berinteraksi dengan senyawa obat lain di dalam tubuh.

 

2.4     Rute Pemberian Obat

Pada pemilihan rute pemberian obat, bergantung pada kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik dan mental pasien. Perawat sering terlibat dalam pemilihan rute pemberian obat. Hal itu terjadi karena perawat terlibat dalam perawatan klien secara konsisten.

Ada beberapa rute pemberian obat yang dikenal :

  1. Rute Oral

Pemberian obat melalui rute oral ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:

  1. Rute per oral adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan. Obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Obat oral ini lebih murah daripada pemberian obat yang lain. Kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama.
  2. Pemberian Sublingual

Pemberian obat secara Sublingual dilakukan dengan cara diletakkan di bawah lidah, kemudian larut dan mudah diabsorpsi. Obat yang diberikan secara Sublingual tidak boleh ditelan, jika obat ditelan maka efek yang diinginkan tidak akan tercapai.

Contoh obat yang biasa diberikan secara sublingual : Gliserin

  1. Pemberian Bukal

Pemberian obat melalui rute bukal dilakukan dengan meletakkan obat padat pada membrane mukosa pipi sampai obat larut. Klien dianjurkan untuk menempatkan dosis obat secara bergantian pada mukosa pipi kanan dan pipi kiri supaya mukosa tidak iritasi. Pasien dilarang menelan atau mengunyah obat yang diberikan secara Bukal.

 

 

  1. Rute Parental

Rute parental adalah rute pemberian obat dengan menginjeksikannya kedalam jaringan tubuh. Pemberian obat melalui rute parental meliputi empat tipe utama injeksi :

  1. Subkutan (SC) adalah pemberian obat secara injeksi langsung  kedalam jaringan tepat dibawah lapisan dermis kulit. Area injeksi ini yang lazim pada lengan atas bagian luar, paha bagian depan, perut, area scapula, ventrogluteal dan dorso gluteal. Injeksi ini tidak boleh diberikan pada area yang nyeri, merah, pruritis atau edema. Pada pemakaian injeksi subkutan jangka lama, maka injeksi perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area yang berbeda. Jenis obat yang lazim diberikan secara subkutan adalah vaksin, obat-obatan pre-operasi, narkotik, insulin, dan heparin. Untuk kemiringannya adalah 450.
  2. Intradermal (ID) adalah penginjeksian yang dilakukan langsung kedalam lapisan dermis tepat dibawah lapisan epidermis. Injeksi ini dilakukan secara terbatas karena hanya sejumlah kecil obat yang dimasukkan. Injeksi ini digunakan untuk tes tuberculin dan tes untuk mengetahui reaksi alergi terhadap obat tertentu serta vaksinasi. Terkadang digunakan untuk anastesi lokal, kemudian dilanjutkan untuk injeksi pada area yang lebih dalam. Are yang lazim digunakan yaitu, lengan bawah bagian dalam, dada bagian atas dan punggung pada area skapula. Jarum ditusukkan pada kulit dengan sudut 150.

 

 

  1. Intramuskular (IM) Pemberian obat yang langsung diinjeksikan  kedalam otot tubuh. Tujuan pemberian intra muscular yaitu memasukkan obat dalam jumlah besar dibandingkan melalui subkutan. Absorpsi obat lebih cepat namun perawat harus lebih hati-hati karena cara ini dapat menyebabkan luka pada kulit dan rasa nyeri. Area yang lazim digunakan yaitu : deltoid, dorso gluteal, vastus lateralis, dan rektus femoris. Alasannya karena masa otot yang besar. Saat injeksi posisi tegak 900.

(i)   Area deltoid : jarang digunakan karena mempunyai resiko besar yaitu tertusuknnya pembuluh darah, mengenai tulang atau serabut saraf. Lokasi injeksi tiga jari dibawah akromeon, dengan cara meletakkan dua jari secara vertical di bawah akromeon dengan jari yang di atas akromeon.

(ii)Area dorsogluteal : perawat harus teliti dan hati-hati sehingga injeksi tidak mengenai saraf skiatik dan pembuluh darah. Bisa digunakan pada orang dewasa dan anak-anak, tidak boleh digunakan pada anak usia dibawah tiga tahun karena otot dorso gluteal belum berkembang. Cara menentukan lokasi dengan membagi gluteal menjadi kuadran-kuadran. Tidak hanya pada bokong saja tetapi memanjang ke arah krista iliaka.

(iii)                  Area Ventrogluteal : disebut juga von Hochstetter. Paling banyak dipilih untuk injeksi intramuskular karena tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini jauh dari anus sehingga tidak terkontaminasi. Caranya jari tengah diletakkan pada spina iliaka anterior superior dan direntangkan membentuk huruf V.

(iv)                  Vastus lateralis : terletak antara sisi median anterior dan sisi midlateral paha. Injeksi disarankan pada sepertiga bagian yang tengah. Caranya area antara trokanter mayor sampai dengan kondila femur lateral menjadi tiga bagian lalu area tengah untuk injeksi.

  1. Intravena (IV) adalah injeksi yang diberikan langsung ke dalam vena.  Tujuan penggunaan jalur vena agar obat yang diberikan dapat bereaksi cepat.Pemberian obat intravena dapat dilakukan dengan berbagai cara, bisa diinjeksikan langsung pada vena melalui vena basilika atau vena sefalika pada lengan. Pada pasien yang diinfus, obat diberikan melalui botol infus atau karet pada selang infus yang dibuat untuk memasukkan obat.

Selain empat tipe utama injeksi, ada beberapa injeksi yang dapat dilakukan, dan perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat ini :

  1. Epidural

Obat diberikan di dalam ruang epidural via kateter yang dipasang oleh perawat anastesi atau ahli anastesi. Penginjeksian ini juga dapat dilakukan oleh perawat yang telah mendapatkan pelatihan secara khusus. Teknik pemberian obat ini sering dilakukan untuk memberikan analgesic pasca operasi.

  1. Intratekal

Obat intratekal diberikan melalui kateter yang dipasang ke dalam ruang subaraknoid atau ke dalam salah satu ventrikel otak. Pemberian intratekal biasanya berhubungan dengan obat jangka panjang yang dilakukan dengan cara pembedahan. Pemberian obat ini biasanya dilakukan oleh dokter tetapi perawat yang sudah mendapatkan pelatihan khusus juga dapat melakukan pemberian obat ini.

  1. Intraoseosa

Metode pemberian obat ini dilakukan dengan memasukkan obat langsung ke dalam sumsum tulang. Metode ini paling sering digunakan pada bayi dan toddler yang akses pembuluh darahnya buruk. Metode ini dilakukan pada kondisi darurat dan metode intraperitonial tidak dapat dilakukan. Biasanya dokter menginsersikan jarum intraososa ke dalam tulang, biasanya di tibia sehingga perawat dapat memberikan obat.

 

  1. Intraperitoneal

Obat langsung diinjeksikan langsung ke dalam rongga peritonium. Di sini obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi. Kemoterapi dan antibiotic biasanya dilakukan dengan cara ini. Salah satu metode dialisis juga menggunakan rute peritoneum untuk memindahkan cairan, elektrolit, dan produk limbah. Perawat onkologi biasanya memasukkan obat kemoterapi ke dalam rongga peritoneum.

  1. Intrapleura

Obat diberikan melalui dinding dada dan langsung kedalam ruang pleura. Obat dimasukkan melalui injeksi atau selang dada yang diinsersi oleh dokter. Kemoterapi adalah obat yang sering diberikan melalui metode ini. Dalam metode ini dokter juga memasukkan obat yang membantu mengatasi efusi pleura persisten. Tindakan ini disebut pleuradesis. Teknik ini membuat pleura visceral dan pleura parietal semakin melekat.

  1. Intraarteri

Pada metode ini, obat langsung diinjeksikan ke dalam arteri. Infus arteri umum dilakukan pada klien yang pada arterinya terdapat bekuan.

Metode penginjeksian dalam pemberian obat yang hanya dapat dilakukan oleh dokter adalah : Intrakardiak dan intraartikular.

  1. Pemberian Topikal

Pada pemberian obat dengan metode topical ini obat diberikan melalui kulit atau membrane mukosa. Pemberian topikal dilakukan dengan mengoleskan obat di suatu daerah kulit, memasang balutan yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan atau menyediakan air mandi yang dicampur obat. Efek sistemik obat timbul jika, kulit klien tipis, konsentrasi obat tinggi, atau jika obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu yang lama.

Obat juga dapat diberikan melalui membran mukosa. Dengan cara ini biasanya obat diabsorpsi secara cepat. Pemberian obat melalui mukosa biasanya dilakukan pada :

 

  1. Pemberian cairan secara langsung.

Contoh : berkumur dan mengusap tenggorok

  1. Insersi obat ke dalam rongga tubuh.

Contoh : menempatkan supositoria pada rektum atau vagina atau menginsersi paket obat ke dalam vagina.

  1. Instilasi (pemasukan lambat cairan ke dalam rongga tubuh)

Contoh : memasukkan tetes telinga, tetes hidung, dan memasukkkan cairan ke dalam kandung kemih dan rektum.

  1. Irigasi (mencuci bersih rongga tubuh)

Contoh : Membilas mata, telinga, vagina, kandung kemih atau rektum dengan obat cair.

  1. Penyemprotan

Contoh : memasukkan obat ke dalam hidung atu tenggorok.

  1. Inhalasi

Saluran napas bagian dalam memungkinkan area permukaan yang luas untuk absorpsi obat. Obat dapat dilakukan melalui pasase nasal, pasase oral atau selang yang dipasang kedalam trakea. Obat inhalasi dapat mengakibatkan efek lokal.

Pemberian obat secara inhalasi yang sering dilakukan adalah ;

  1. Inhalasi Nasal

Obat diinhalasi melalui hidung dengan menggunakan sebuah alat yang menghantar obat. Misal fenilefrin (Neo-Synephryne) yang menghasilkan efek lokal, yakni Vasokonstriksi jalan napas. Obat yang biasa diberikan dengan cara ini antara lain : anastesi lokal, steroid dan oksigen.

  1. Inhalasi Oral

Inhalasi oral paling sering digunakan untuk menghantar obat ke sel target atau organisme di parenkim paru. Obat dihantarkan oleh alat yang dipegang di tangan klien. Obat yang digunakan menggunakan inhaler yang dipegang di tangan, disebar melalui sebuah semprot aerosol, uap atau bubuk yang masuk ke saluran udara di paru.

Penggunakan teknik ini pada beberapa klien perlu dipantau, khususnya pada klien bayi atau lansia.

  1. Pemberian melalui Endotrakea atau trakea

Pemberian obat dengan metode ini dilakukan dalam situasi darurat. Jika pada pasien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan di trakea klien.

  1. Intraokuler

Pemberian obat secara intraokuler dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip dengan lensa kontak ke dalam mata klien. Obat mataberbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang di dalamnya terdapat obat. Cakram diinsersikan ke dalam mata klien seperti lensa kontak. Cakram dapat tetap di dalam mata klien selama satu minggu. Obat yang sering diberikan melalui metode ini adalah : Obat yang digunakan untuk mengobati Glaukoma, DPGH yang digunakan untuk mengobati jamur pada mata.

Bentuk Obat menentukan rute pemberian obat. Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat:

Bentuk

Deskripsi

Kaplet Dosis padat untuk pemberian oral: bentuk seperti kapsul dan bersalut, sehingga mudah ditelan
Kapsul Dosis padat untuk pemberian oral: dalam bentuk bubuk, cairan, atau minyak dan dibungkus oleh gelatin: kapsul diwarnai untuk membantu mengidentifikasi produk
Elipsin Cairan jernih berisi air dan atau alcohol: digunakan secara oral: biasanya ditambah pemanis.
Tablet enteric bersalut Pemberian secara oral, dilapisi bahan yang tidak larut dalam lambung; lapisan larut dalam usus, tempat obat diabsorbsi
Gliserit Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunaan luar: mengandung sekurang-kurangnya 50% gliserin
Cakram intraukular

( intraocular disk)

Bentuk oval, fleksible berukuran kecil terdiri dari 2 lapisan luar yang lunak dan sebuah lapisan tengah berisi obat.saat dilembabkan oleh cairan ocular atau mata, cakram melepas obat sampai satu minggu.
Obat gosok (liniment) Preparat biasanya mengandung alcohol, minyak, atau pelembut sabun yang dioles pada kulit.
Lotion Obat dalam cairan, suspense yang diolah pada kulit untuk melindunginya
Salep Semisolid ( agak padat ), dioles pada kulit
Pasta Semisolid, lebih kental dan kaku daripada saleb, diabsorbsi melalui kulit lebih lambat daripada saleb.
Pil Dosis yang berisi satu atau lebih obat, dibentuk didalam tetesan, lonjong, atau bujur: pil yang sesungguhnya jarang digunakan karena sudah digantikan dengan tablet
Larutan Cairan digunakan per oral, parenteral, atau secara eksternal; dapat dimasukkan dalam organ atau rongga tubuh ( misal irigasi kandung kemih); harus steril untuk penggunaan parenteral.
Supositoria Dosis padat yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk dalam bentuk peluru untuk dimasukkan kedalam rongga tubuh (  rectum atau vagina ): meleleh saat mencapai suhu tubuh, melepas obat untuk diabsorbsi
Suspensi Partikel obat yang dibelah sampai halus dalam media cair : saat dibiarkan partikel berkumpul dibawah wadah, diberikan secara oral atau intravena
Sirup Obat yang larut dalam larutan gula pekat: mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak
Tablet Dosis bubuk yang dikompresi kedalam cairan atau silender yang keras: mengandung zat pengikat( perekat untuk membuat bubuk penyatu), zat pemisah ( untuk melarutkan pelarutan tablet) lubricant ( supaya mudak dibuat dipabrik), dan zat pengisi ( supaya ukuran tablet cocok )
Cakram atau lempeng transdermal Berada dalam cakram (disk) atau patch membrane semipermeable yang membuat obat perlahan –lahan diabsorbsi melalui kulit dalam periode waktu yang lama
Tintura Alcohol atau larutan obat air- alkohol
Tablet isap (Troche,lozenge) Dosis datar, bundar mengandung obat, cita rasa, gula dan bahan perekat cair: larut dalam mulut untuk melepas obat.

 

 

2.5  Proses Keperawatan dalam Pemberian Obat (medikasi)

  1. a.   Pengkajian (Assessing)

Untuk menetapkan kebutuhan terhadap terapi obat dan respon potensial terhadap terapi obat, maka perawat harus mengkaji beberapa faktor :

  1. Riwayat Medis

Riwayat medis memberi indikasi atau kontradiksi terhadap terapi obat. Penyakit atau gangguan membuat klien beresiko terkena efek samping yang merugikan. Contoh, jika klien terkena ulkus lambung atau cenderung mengalami pendarahan maka senyawa yang mengandung aspirin atau antikoagulasi akan meningkatkan pendarahan. Masalah kesehatan jangka panjang, misalnya diabetes atau arthritis yang membutuhkan pengobatan, klien harus memberi tahu perawat tipe obat yang sedang klien gunakan. Riwayat pembedahan klien dapat mengindikasikan obat yang digunakan.

  1. Riwayat Alergi

Apabila klien mempunyai alergi terhadap obat, perawat harus menginformasikan anggota kesehatan lain. Alergi terhadap makanan juga harus didokumentasikan karena banyak obat mengandung unsur yang terkandung dalam makanan. Salah satu contoh kerang. Apabila klien alergi kerang, maka klien akan sensitif terhadap obat mengandung unsur yodium. Semua daftar alergi klien harus dicatat pada catatan penerimaan klien, catatan medis dan riwayat dokter.

  1. Data Obat

Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat, termasuk kerja, tujuan, dosis normal, rute pemberian, efek samping, dan implikasi keperawatan dalam pemberian obat. Beberapa sumber seringkali harus dikonsultasikan untuk memperoleh keterangan yang dibutuhkan. Buku farmakologi, jurnal keperawatan, Physician’s Desk Reference, lembar sisipan obat dan ahli farmasi merupakan sumber yang berharga. Perawat bertanggung jawab untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang obat yang diberikan.

  1. Riwayat Diet

Riwayat diet memberikan keterangan tentang pola makan dan pilihan makanan klien. Perawat kemudian dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan menganjurkan klien menghindari makanan yang berinteraksi dengan obat.

  1. Kondisi Klien Terkini

Status fisik dan mental klien yang berkesinambungan dapat menentukan apakah obat sebaiknya diberikan dan cara pemberian obat. Contoh, perawat memeriksa tekanan darah sebelum memberi obat anti hipertensi. Temuan pengkajian dapat juga memberi data dasar dalam mengevaluasi efek terapi obat.

  1. Persepsi klien atau Masalah Koordinasi

Klien yang fungsi persepsi dan koordinasinya terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri. Perawat harus mengkaji kemampuan klien dalam mempersiapkan dosis dan menggunakan obat dengan benar. Apabila klien tidak mampu menggunakan obat dengan mandiri, perawat dapat mempelajari apakah ada anggota keluarga atau teman yang dapat membantu.

  1. Sikap Klien terhadap Penggunaan Obat

Sikap klien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungannya pada obat. Klien biasanya enggan mengungkapkan perasaannya terhadap obat, khususnya apabila ia memiliki ketergantungan. Untuk mengkaji sikap klien, perawat dapat mengobsevasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantungan obat.

  1. Pengetahuan Klien dan Pemahaman Tentang Terapi Obat

Pengetahuan klien dan pemahaman klien tentang terapi obat mempengaruhi keinginan atau kemampuannya dalam mengikuti suatu program pengobatan. Apabila klien tidak memahami tujuan obat, penjadwalan dosis yang teratur, metode pemberian yang tepat, efek samping yang mungkin timbul, memungkinkan klien tidak mematuhi program pengobatan. Apabila riwayat kepatuhan klien rendah, perawat juga sebaiknya memeriksa sumber yang dapat klien manfaatkan untuk membeli obat.

  1. Kebutuhan pembelajaran klien.

Dengan mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang sebuah obat, perawat dapat memberikan instruksi yang klien perlukan. Perawat mungkin perlu menjelaskan kerja dan tujuan obat, efek samping yang akan timbul, teknik pemberian obat yang benar dan cara mengingat jadwal obat. Apabila klien mendapat resep obat baru, instruksi tertentu dapat diberikan. Teman atau anggota keluarga dapat dilibatkan.

b. Diagnosa

Diagnosa pemberian obat ini digunakan untuk menentukan masalah aktual atau potensial pada terapi obat. Perawat mengelompokkan batasan karakteristik untuk menegakkan diagnose keperawatan yang akurat.

Misalnya pada klien yang tidak patuh pada program pengobatan. Apabila diagnosis defisit pengetahuan ditegakkan atau faktor-faktor yang menghambat kepatuhan klien terhadap terapi obat ditetapkan maka dalam rencana asuhan keperawatan, klien harus diberi penyuluhan. Apabila klien mengalami keterbatasan fisik yang mempengaruhi pemberian obat, maka perawat merencanakan strategi untuk memastikan keamanan pemberian obat.

  1. c.  Perencanaan

Perawat mengatur aktivitas perawatan untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman. Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat. Dengan demikian perawat mengajarkan klien tentang obat yang digunakannya.

Pada situasi klien belajar menggunakan obat secara mandiri, perawat dapat merencanakan untuk menggunakan semua sumber pengajaran yang tersedia. Keterlibatan anggota keluarga atau teman klien dalam pelaksanaan instruksi sangat penting. Misalnya, pada klien yang dirawat di rumah perawat dapat membantu klien untuk menyusun jadwal pengobatan yang disesuaikan dengan rutinitas di rumah.

  1.  Implementasi

Perawat mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung jawab bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum. Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat, memberikannya dengan benar dan member klien penyuluhan.

Ada lima prinsip yang harus diperhatikan :

  1. Benar Klien

Langkah penting dalam pemberian obat dengan aman adalah meyakinkan bahwa obat tersebut diberikan kepada klien yang benar. Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (gelang identitas, papan identitas di tempat tidur atau ditanyakan). Perawat harus meminta klien untuk menyebutkan nama lengkapnya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai misalkan mengangguk.

  1. Benar Obat

Apabila obat pertama kali diprogramkan, perawat harus membandingkan tiket obat atau format pencatatan unit/ dosis dengan instruksi yang ditulis dokter. Ketika memberikan obat, perawat membandingkan label pada wadah obat dengan format/ tiket obat. Perawat melakukan itu 3 kali, yaitu :

  1.  Sebelum memindahkan wadah obat dari laci atau lemari
    1.  Pada saat beberapa obat yang diprogramkan dipindah dari wadahnya
    2.  Sebelum mengembalikan wadah obat ke tempat penyimpanan

Perawat hanya memberikan obat yang dipersiapkannya. Jika terjadi kesalahan, perawat yang memberikan obat bertanggung jawab terhadap efek obat.

  1. Benar Dosis

Apabila sebuah obat disediakan dari volume yang lebih besar atau lebih kecil dari yang dibutuhkan, hal tersebut meningkatkan resiko kesalahan maka perawat harus memeriksa perhitungan dosis yang dilakukan perawat lain. Setelah menghitung dosis, perawat menyiapkan obat dengan menggunakan perhitungan alat standar.

  1. Benar Cara atau Rute Pemberian

Apabila sebuah instruksi obat tidak menerangkan rute pemberian obat, maka perawat dapat mengonsultasikannya kepada dokter. Demikian sebaliknya bila rute pemberian obat bukan cara yang direkomendasikan, maka perawat wajib mengingatkan dokter.

Obat dapat diberikan per oral, parenteral, inhalasi, topikal, dan rectal (supositoria atau enema).

  1. Benar Waktu

Perawat harus mengetahui alasan sebuah obat diprogramkan untuk waktu tertentu. Sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai, bahwa obat tersebut diberikan pada waktu yang tepat. Setelah obat itu diberikan harus dicatat dosis, rute, waktu, dan oleh siapa obat itu diberikan dan apabila tidak terminum harus dicatat dan dilaporkan

  1. e.  Evaluasi

Perawat harus memantau respon klien terhadap obat secara berkesinambungan. Untuk melakukan harus mengetahui kerja terapeutik dan efek samping yang umum dari setiap obat. Perawat harus mewaspadai reaksi yang timbul ketika klien mengonsumsi beberapa obat.

Untuk mengevaluasi keefektifan intervensi keperawatan, perawat melakukan evaluasi untuk mengidentifikasi hasil akhir yang aktual. Langkah evaluasi meliputi  menentukan tidak adanya komplikasi yang terkait dengan rute pemberian obat, efek terapeutik obat, keamanan dan kenyamanan klien serta menentukan kemampuan klien dalam menggunakan obat secara mandiri dan aman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s