Askep pasien preoperasi

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tahap Preoperatif

Keperawatan preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi.

2.1.1 Riwayat Keperawatan Bedah

Bedah telah menjadi salah satu bentuk keahlian sejak abad ke-19. Pembedahan merupakan cara dokter untuk mengobati kondisi yang sulit atau tidak mungkin disembuhkan hanya dengan obat – obatan sederhana. Pada awalnya dokter bedah hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang prinsip – prinsip aseptik dan teknik anastesi masih sangat primitif serta tidak aman bagi klien. Penemuan anastesia pada tahun 1840-an memungkinkan para dokter bedah untuk melakukan pembedahan pada klien, tanpa disertai rasa nyeri.

Pada awalnya, perawat yang bekerja dalam ruang operasi bertugas membersihkan ruangan dan peralatan, mealakukan tugas teknis seperti menyediakan alat dan bahan yang  dibutuhkan, dan kadang kala menemani klien ke ruang operasi, untuk memberikan asuhan keperawatan disana.

3

Pada tahun 1876 rumah sakit umum Massachusetts menyediakan pendidikan di ruang operasi yang pertama bagi perawat. Model ini terus berlanjut pada tahun 1900-an saat sekolah keperawatan memasukkan pengalaman ruang operasi kedalam setiap pendidikan klinik keperawatan.

Pada tahun 1956 dibentuklah Asosiasi Perawat Ruang Operasi (The Association of Operating Room Nurses) yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang prinsip – prinsip bedah dan mengeksplorasi metode untuk meningkatkan asuhan keperawatan bagi klien bedah. Organisasi ini mengembangkan standar praktik keperawatan untuk menentukan perlu adanya perawat ahli yang telah terdaftar (Registered Nurses) untuk ruang operasi.

Perkembangan juga terjadi pada pengaturan tempat untuk dilaksanakannya prosedur operasi. Bedah sehari (ambulatory surgery) atau pembedahan tanpa rawat inap (outpatient surgery) merupakan pelayanan asuhan kesehatan yang berkembang cepat baik dari segi jumlah maupun jens prosedur yang dilakukan. Bedah sehari adalah prosedur bedah yang telah dijadwalkan untuk klien yang tidak perlu menginap di rumah sakit seperti biopsi, bedah kosmetik, dan ekstraksi katarak. Selain itu, ada juga program bedah pada hari yang sama (same-day surgery) yaitu klien datang pada pagi hari, menjalani prosedur pembedahan dan menginap satu malam selama pemulihan sebelum klien pulang.

Program bedah sehari (ambulatory surgery) dan bedah pada hari yang sama (same-day surgery), memberikan tantangan tersendiri bagi perawat bedah. Sebelum pembedahan, perawat harus menemukan cara yang kreatif untuk memberikan penyuluhan pada klien dan anggota keluarga karena waktu persiapan jauh lebih singkat sehingga perawat harus melakukan pengkajian lengkap secara efisien.

1.1.2        Klasifikasi Pembedahan

Klasifikasi pembedahan dikelompokkan berdasarkan beberapa tingkat, yaitu berdasarkan tingkat keseriusan, tingkat urgensi dan tujuan pembedahan. Tiga  kelompok tersebut dapat  digolongkan seperti tabel dibawah ini :

 

Tingkat

Jenis

Deskripsi

Contoh
Keseriusan

Mayor

Melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh; menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan Bypass arteri koroner, reseksi kolon, pengangkatan laring, reseksi lobus paru.

Minor

Melibatkan perubahan yang kecil pada bagian tubuh; sering dilakukan untuk memperbaiki deformitas; mengandung risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan prosedur mayor. Ekstraksi katarak, operasi plastik wajah, ekstraksi gigi.
Urgensi

Elektif

Dilakukan berdasarkan pada pilihan klien; tidak penting dan tidak dibutuhkan kesehatan Bunionektomi, operasi plastik wajah, perbaikan hernia, rekonstruksi payudara

Gawat

Perlu untuk kesehatan klien, dapat mencegah timbulnya masalah tambahan (misal : destriksi jaringan atau fungsi organ yang terganggu); tidak harus selau bersifat darurat Eksisi tumor ganas, pengangkatan batu kandung empedu, perbaikan vaskular akibat obstruksi arteri (misal : bypass arteri koroner)

Darurat

Harus dilakukan segera untuk menyelamatkan jiwa atau mempertahankan fungsi bagian tubuh Memperbaiki perforasi appendiks; amputasi traumatik, mengontrol perdarahan internal
Tujuan

Diagnostik

Bedah eksplorasi untuk memperkuat diagnosis dokter; termasuk pengangkatan jaringan untuk pemeriksaan diagnostik yang lebih lanjut Laparotomi eksplorasi (insisi rongga peritoneal untuk menginspeksi organ abdomen), biopsi massa payudara

Ablatif

Eksisi atau pengangkatan bagian tubuh yang menderita penyakit Amputasi, pengangkatan appendiks, kolesistekomi

Paliatif

Menghilangkan atau mengurangi intensitas gejala penyakit; tidak akan meyembuhkan penyakit Kolostomi, debridemen jaringan nekrotik, reseksi serabut saraf

Rekonstruktif

Mengembalikan fungsi atau penampilan jaringan yang mengalami trauma atau malfungsi Fiksasi internal pada fraktur, perbaikan jaringan parut

Transplantasi

Dilakukan untuk mengganti organ atau struktur yang mengalami malfungsi Transplantasi ginjal, kornea, atau hati; penggantian pinggul total

Konstruktif

Mengembalikan fungsi yang hilang atau berkurang akibat anomali kongenital Memperbaiki bibir sumbing, penutupan defek katup atrium jantung

 

 

2.1.3 Fase Pembedahan Preoperatif

  1. a.      Persiapan Fisik

Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain :

  1. Status kesehatan fisik secara umum

Pemeriksaan status kesehatan secara umum meliputi identitas klien, riwayat penyakit, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap; antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin dan fungsi imunologi. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup karena pasien tidak akan mengalami stres fisik dan tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah pasien dapat stabil serta bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.

  1. Status Nutrisi

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup bagi perbaikan jaringan. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreks sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan.

Protein sangat penting untuk mengganti massa otot tubuh selama fase katabolik setelah pembedahan, memulihkan volume darah dan protein plasma yang hilang, dan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat untuk perbaikan jaringan dan daya tahan terhadao infeksi.

Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.

  1. Keseimbangan cairan dan elektrolit

Keseimbangan cairan dan elektrolit perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya diperiksa adalah kadar natrium serum (normal : 135 – 145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 – 5 mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 – 1,50 mg/dl).

Keseimbangan cairan dan elektrolit berkaitan erat dengan fungsi ginjal. Ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri atau anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal, kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.

  1. Kebersihan lambung dan kolon

Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema atau lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7 – 8 jam. Tujuan pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadi infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera) seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas, pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube).

  1. Personal Hygine

Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat menjadi sumber kuman dan mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya, jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.

  1. Pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk pengosongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperlukan untuk mengobservasi keseimbangan cairan.

  1. Latihan Fisik

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pascaoperasi, seperti nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain latihan nafas dalam, latihan batuk efektif dan latihan gerak sendi.

  1. Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif

Tujuannya adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah statis vena, dan menunjang fungsi pernafasan yang optimal. Pasien ditunjukkan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Latihan ekstremitas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan sendi panggul, telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu dilatih untuk ROM.

Adapun cara dari latihan perubaha posisi dan gerakan tubuh aktif, yaitu :

1)      Latihan tungkai

a)      Berbaring dalam posisi semi-fowler dan melakukan latihan untuk memperbaiki sirkulasi.

b)      Bengkokkan lutut dan naikkan kaki lalu tahan selama beberapa detik, kemudian luruskan tungkai dan turunkan ke tempat tidur.

c)      Lakukan secara berulang untuk satu tungkai, lalu ulang pada tungkai lainnya.

d)     Kemudian buat lingkaran dengan kaki dengan membengkokkan ke bawah, ke dalam mendekat satu sama lain, ka atas dan kemudian keluar.

2)      Posisi miring

a)      Miring ke salah satu sisi dengan bagian paling atas tungkai fleksi dan di sangga di atas bantal.

b)      Raih pagar tempat tidur sebagai alat bantu untuk maneuver ke samping.

c)      Lakukan pernafasan diafragmatik dan batuk ketika tubuh miring.

3)      Turun dari tempat tidur

a)      Miring ke salah satu sisi.

b)      Dorong tubuh ke atas dengan satu tangan ketika mengayunkan tungkai turun dari tempat tidur.

  1. Kontrol dan medikasi nyeri

Medikasi praanestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi. Pada pascaoperatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan rasa nyaman.

  1. Latihan nafas dalam dan batuk

Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk mengajarkan pada pasien mengenai cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.

1)      Pernafasan Diafragmatik

Pernafasan diafragmatik mengacu pada pendataran diafragma selama inspirasi dengan mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk. selam ekspirasi otot abdomen berkontraksi.

a)      Lakukan dalam posisi di atas tempat tidur dengan punggung dan bahu tesangga oleh bantal.

b)      Dengan tangan dalam posisi genggaman kendur, biarkan tangan berada di atas iga paling bawah dengan jari-jari tangan menghadap dada bagian bawah.

c)      Keluarkan nafas dengan perlahan dan penuh bersamaan dengan gerakan iga menurun.

d)     Ambil nafas dalam melalui hidung dan mulut, biarkan abdomen mengembang bersamaan dengan paru-paru terisi oleh udara.

e)      Tarik nafas dalam hitungna kelima.

f)       Hembuskan dan keluarkan semua udara melalui hidung dan mulut.

2)      Batuk

a)      Condong sedikit ke depan dari posisi duduk di tempat tidur, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan tangan melintang letak insisi untuk bertindak sebagai bebat ketika batuk.

b)      Nafas dengan diafragma.

c)      Dengan mulut agak terbuka, hirup udara.

d)     “Hak”kan keluar dengan keras dengan tiga kali nafas pendek.

e)      Dengan mulut tetap terbuka, lakukan nafas dalam dengan cepat dan dengan cepat batuk dengan kuat satu atau dua kali. Hal ini membantu membersihkan sekresi dari dada.

  1. Kontrol kognitif

Bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan dan ansietas yang berlebihan. Kontrol kognitif tersebut seperti : imajinasi dan distraksi. Pada kontrol kognitif imajinasi, pasien dianjurkan untuk berkonsentrasi pada pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan kontrol kognitif distraksi, pasien dianjurkan untuk memikirkan cerita yang dapat dinikmati.

  1. b.      Persiapan Penunjang

Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan pembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak mungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus

dilakukan pada pasien.

Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi, laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG. Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien, dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien.

Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anastesi berperan menentukan apakah kondisi pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai macam pemeriksaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan masa pembekuan (clotting time) darah pasien, elektrolit serum, hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan ECG.

Pemeriksaan penunjang antara lain :

  1. Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang (daerah fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan (Computerized Tomography Scan), MRI (Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL (Colon in Loop), ECG (Electro Cardio Graphy), ECHO, EEG (Electro Enchephalo Graphy), dll.
  2. Pemeriksaan Laboratorium berupa pemeriksan darah : hemoglobin, angka leukosit, limfosit, LED (laju endap darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin), elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT BT, ureum kretinin, BUN, dll. Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkait dengan kelainan darah.
  3. Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
  4. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD), untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darah jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (ppst prandial).
  5. c.       Persiapan Psikis (Mental)

Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya.

Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Long). Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain, pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan.

Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula. Akan tetapi, sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain :

  1. Takut nyeri setelah pembedahan
  2. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image)
  3. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)
  4. Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yang mempunyai penyakit yang sama.
  5. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.
  6. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
  7. Takut operasi gagal.

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarga, sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap. Hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu.

Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien.  Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.

2.1.4 Proses Keperawatan dan Klien Bedah

  1. 1.      Pengkajian
    1. Riwayat medis.

Pengkajian ulang riwayat kesehatan klien meliputi riwayat penyakit yang pernah diderita dan alasan utama klien mencari pengobatan.

  1. Pemeriksaan fisik

Berfokus pada data yang  berhubungan dengan riwayat kesehatan klien dan sistem tubuh yang akan dipengaruhi oleh pembedahan.

  1. Kesehatan emosional

Perawat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan, konsep diri, citra diri, dan sumber koping klien untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien.

  1. Riwayat pembedahan

Pengalaman bedah sebelumnya mempengaruhi respon fisik dan psikologis klien terhadap prosedur pembedahan.

  1. Riwayat obat-obatan

Obat tertentu mempunyai implikasi khusus bagi klien bedah. Obat yang diminum sebelum pembedahan akan dihentikan saat klien selesai menjalani operasi kecuali dokter meminta klien untuk menggunakannya kembali.

  1. Alergi

Perawat harus mewaspadai adanya alergi terhadap obat yang mungkin diberikan selama fase pembedahan.

  1. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol

Pada klien perokok setelah pembedahan akan mengalami kesulitan dalam membersihkan jalan nafas dari sekresi lender dan bagi klien pengguna alcohol dapat menyebabkan klien memerlukan dosis anastesi lebih tinggi.

  1. Budaya

Klien yang berasal dari budaya yang berbeda akan menunjukkan reaksi yang berebeda tentang pengalaman operasi .

  1. 2.      Diagnosa

Diagnosa keperawatan NANDA pada klien preoperatif

  1. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembedahan yang akan dilakukan dan adanya ancaman kehilangan bagian tubuh
  2. Ketidakefektifan koping keluarga : menurun berhubungan dengan perubahan sementara pada peran klien dan beratnya operasi yang akan dilaksanakan
  3. Ketakutan yang berhubungan dengan pembedahan yang akan dilaksanakan dan antisipasi nyeri pascaoperatif
  4. Kurang pengetahuan tentang implikasi pembedahan yang berhubungan dengan kurang pengalaman tentang operasi dan kesalahpahaman informasi
  5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang berlebihan
  6. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan operasi darurat
  7. Risiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan radiasi preoperatif dan imobilisasi selama operasi
  8. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan ketakutan menghadapi operasi dan jadwal preoperatif rutin di rumah sakit.
  9. 3.      Perencanaan

Klien bedah perlu diikutsertakan dalam pembuatan rencana perawatan. Dengan melibatkan klien sejak awal pembuatan rencana asuhan keperawatan bedah, risiko pembedahan dan komplikasi pasca operatif dapat diminimalkan. Misalnya, riset keperawatan menunjukkan bahwa penyuluhan preoperatif yang diberikan secara terstruktur dapat mempersingkat masa rawat klien di rumah sakit. Rasa takut klien yang telah diinformasikan tentang pembedahan akan menurun dan klien akan mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam tahap pemulihan pasca operatif sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai. Keluarga juga merupakan rekan penting dalam memahami hasil akhir yang telah ditetapkan untuk mencapai pemulihan. Pada setiap diagnosa, perawat menetapkan tujuan perawatan dan hasil akhir yang harus dicapai untuk memastikan pemulihan atau mempertahankan status preoperatif klien.

Untuk klien bedah sehari, tahap perencanaan preoperatif dilakukan di rumah atau di unit bedah sehari pada pagi hari sebelum klien menjalani operasi. Idealnya, tahap ini dilakukan di rumah dengan cara perawat menelepon klien di rumah dan di unit bedah dan atau tempat praktik dokter dan menjelaskan tentang informasi dan instrupsi preoperatif. Cara ini member waktu pada klien untuk memikirkan operasi yang akan dijalaninya, melakukan persiapan fisik yang diperlukan (missal; mengubah diet atau berhenti minum obat), dan bertanya tentang prosedur pasca operatif. Klien bedah sehari biasanya pulang ke rumah pada hari yang sama ia menjalani opersi. Jadi, perawatan preoperatif yang direncanakan dengan baik member kepastian bahwa klien telah mendapat informasi yang cukup dan mampu berpartisispasi aktif selama tahap pemulihan. Keluarga atau pasangan klien juga dapat berperan sebagai pendukung aktif bagi klien.

Rencana keperawatan preoperatif dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan individu. Namun, setiap klien harus menjalani persiapan dasar.

Tujuan perawatan klien bedah antara lain

  1. Memahami respon pembedahan secara fisiologis dan psikologis
  2. Memahami tahap – tahap intraoperatif dan pasca operatif
  3. Mendapatkan rasa nyaman dan relaksasi emosional
  4. Mendapatkan kembali fungsi fisiologis normal setelah pembedahan (misal  tanda – tanda vital kembali norma)
  5. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit normal.
  6. Mendapatkan rasa nyaman dan istirahat
  7. Mempertahankan luka bedah bebas dari infeksi
  8. Menghindarkan cedera selama periode perioperatif
  9. 4.      Implementasi
    1. Persetujuan tindakan

Secara hukum pembedahan tidak boleh dilakukan sebelum klien memahami prosedur pembedahan yang akan dilakukan, tahap – tahap yang harus dilalui, resiko, hasil yang diharapkan dan terapi alternatifnya. Klien harus memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan.

  1. Penyuluhan klien

Penyuluhan preoperatif tentang perilaku yang diharapkan yang dilakukan klien saat pascaoperasi, yang diberikan secara sistematik dan terstruktur sesuai dengan prinsip – prinsip dan mempunyai pengaruh positif bagi pemulihan klien.

  1. Memberikan dorongan pada pasien. Dengarkan, pahami klien dan berikan informasi yang membantu menyingkirkan kekhawatiran klien.
  2. Melibatkan peran keluarga atau sahabat klien untuk memberikan dorongan pada klien.
  3. Membantu klien untuk mendapatkan bantuan spiritual yang klien inginkan
  4. Menurunkan ansietas preoperatif

Perawat memberikan dorongan untuk pengungkapan dan harus mendengarkan, memahami, dan memberikan informasi yang membantu menyingkirkan kekhawatiran tersebut.

  1. 5.      Evaluasi

Perawat mengevaluasi keberhasilan penyuluhan preoperatif dan peningkatan fungsi fisiologis normal klien.

2.2 Tahap Intraoperatif

Keperawatan intraoperatif merupakan bagian dari tahapan keperawatan perioperatif. Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam aktivitas yang dilakukan oleh perawat di ruang operasi. Aktivitas di ruang operasi oleh perawat difokuskan pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi atau menghilangkan masalah-masalah fisik yang mengganggu pasien. Tentunya pada saat dilakukan pembedahan akan muncul permasalahan baik fisiologis maupun psikologis pada diri pasien.

Untuk itu keperawatan intraoperatif tidak hanya berfokus pada masalah fisiologis yang dihadapi oleh pasien selama operasi, namun juga harus berfokus pada masalah psikologis yang dihadapi oleh pasien. Sehingga pada akhirnya akan menghasilkan outcome berupa asuhan keperawatan yang terintegrasi. Untuk menghasilkan hasil terbaik bagi diri pasien, tentunya diperlukan tenaga kesehatan yang kompeten dan kerja sama yang sinergis antara masing-masing anggota tim.

Secara umum anggota tim dalam prosedur pembedahan ada tiga kelompok besar, meliputi pertama, ahli anastesi dan perawat anastesi yang bertugas memberikan agen analgetik dan membaringkan pasien dalam posisi yang tepat di meja operasi, kedua ahli bedah dan asisten yang melakukan scrub dan pembedahan dan yang ketiga adalah perawat intraoperatif. Perawat intraoperatif bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan (well being) pasien.

Untuk itu perawat intraoperatif perlu mengadakan koordinasi petugas ruang operasi dan pelaksanaan perawat scrub dan pengaturan aktivitas selama pembedahan. Peran lain perawat di ruang operasi adalah sebagai RNFA (Registered Nurse First Assitant). Peran sebagai RNFA ini sudah berlangsung dengan baik di negara-negara amerika utara dan eropa.

Peran perawat sebagai RNFA diantaranya meliputi penanganan jaringan, memberikan pemajanan pada daerah operasi, penggunaan instrumen, jahitan bedah dan pemberian hemostatis. Untuk menjamin perawatan pasien yang optimal selama pembedahan, informasi mengenai pasien harus dijelaskan pada ahli anastesi dan perawat anastesi, serta perawat bedah dan dokter bedahnya.

Selain itu segala macam perkembangan yang berkaitan dengan perawatan pasien di unit perawatan pasca anastesi (PACU) seperti perdarahan, temuan yang tidak diperkirakan, permasalahan cairan dan elektrolit, syok, kesulitan pernafasan harus dicatat, didokumentasikan dan dikomunikasikan dengan staff PACU.

2.2.1 Perawatan Klien di Ruang Sementara

Pada sebagian rumah sakit, klien lebih dulu pergi ke ruang tahanan sementara yang berada di ruang operasi. Di sana perawat menjelaskan tahap-tahap yang akan dilaksanakan untuk menyiapkan klien selama pembedahan.  Perawat di ruang tahanan sementara biasanya adalah bagian dari petugas ruang operasi dan mengenakan pakaian, topi, dan alas kaki khusus ruang operasi sesuai dengan kebijakan pengontrolan infeksi rumah sakit. Pada beberapa tempat bedah sehari, perawat primer perioperatif menerima kedatangan klien, menjadi perawat sirkulator selama prosedur berlangsung, dan mengelola pemulihan serta kepulangan klien.

Di dalam ruang tahanan sementara, perawat, perawat anestesi atau ahli anestesi memasang kateter infus ke tangan klien untuk memberikan prosedur rutin penggantian cairan dan obat-obatan melalui intravena. Biasanya menggunakan  kateter IV yang berukuran besar agar pemasukan cairan menjadi lebih mudah. Perawat juga memasang manset tekanan darah. Manset tetap terpasang pada lengan klien selama pembedahan berlangsung sehingga ahli anastesi dapat mengkaji tekanan darah klien.

Akibat pengaruh obat-obatan preoperatif, klien mulai merasa pusing. Karena suhu ruang tahanan sementara dan ruang operasi biasanya dingin maka klien harus di berikan selimut tambahan. Klien yang tetap berada di ruang tahanan sementara harus dalam keadaan berani menghadapi operasi.

2.2.2 Pemberian Anastesi

Pada setiap pembedahan diperlukan upaya untuk menghilangkan  nyeri. Upaya menghilangkan rasa nyeri tersebut dengan pemberian anastesi. Pemberian anastesi menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran.

Anestesi (berasal dari bahasa Yunani an-“tidak, tanpa” dan aesthētos, “persepsi, kemampuan untuk merasa”), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.

Pemberian anastesi dilakukan saat klien sudah berada di kamar operasi (OK) dan sebelum dilakukan pembedahan. Pada hari pembedahan, pasien diantar ke ruang operasi dan dipindahkan ke meja operasi. Para ahli anestesi akan melakukan pemeriksaan kondisi fisik, tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernafasan. Selanjutnya anestesi diberikan pada pasien.

Tujuan dari pemberian anastesi adalah untuk menghambat  transmisi impuls syaraf, menekan refleks dan meningkatkan relaksasi otot. Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan faktor klien.

 

Ada beberapa macam anastesi, yaitu :

  1. a.       Anastesi umum

Anastesi umum menyebabkan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak. Klien juga mengalami amnesia tentang seluruh proses yang terjadi selama pembedahan. Pembedahan yang mengunakan anestesi umum melibatkan prosedur mayor yang membutuhkan manipulasi jaringan yang luas. Misal : bedah kepala, leher, dan klien yang tidak kooperatif.

Ahli anestesi memberi anestesi umum melalui jalur IV dan inhalasi melalui 4 tahap anestesi yaitu:

  1. Tahap 1

Dimulai saat klien masih tidur. Klienmenjadi pusing dan kehilangan kesadaran secara bertahap,dan status analgesik dimulai.

  1. Tahap 2

Tahap ini adalah tahap eksitasi. Otot klien kadang – kadang menegang dan hamper kejang. Refleks menelan dan muntah tetap ada, dan pola nafas klien mungkin menjadi tidak teratur.

  1. Tahap 3

Tahap dimulai saat irama pernafasan mulai teratur. Fungsi vital terdepresi, reflek terdepresi,atau hilang sementara, dan dokter bedah mulai melakukan pembedahan pada tahap ini.

  1. Tahap 4

Tahap ini adalah tahap depresi pernafasan lengkap, yang dapat menjadi fatal. Tahap–tahap ini ditentukan oleh penggunaan eter dan kadang–kadang sulit ditentukan jika menggunakan obat–obatan anestesi yang baru.

Stadium Anestesi umum yaitu :

1)      Stadium I : Relaksasi

Mulai sejak klien sadar hingga kehilangan kesadaran secara bertahab.

2)      Stadium II: Excitement

Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang irreguler dan pergerakan anggota badan tidak teratur.

3)      Stadium III : Anestesi pembedahan.

Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.

4)      Stadium IV : Bahaya.

Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.

  1. b.      Anestesi lokal

      Anestesi ini menyebabkan hilangnya sensasi pada tempat yang diinginkan. Misalnya : adanya sel tumbuh pada kulit atau kornea mata. Obat anestesi (lidokain) dapat menghambat konduksi saraf sampai obat terdifusi kedalam sirkulasi. Klien akan kehilangan rasa nyeri dan sentuhan, aktivitas motorik dan otonom. Anestesi lokal umumnya digunakan dalam prosedur minor pada tempat bedah sehari.

  1. c.       Anestesi regional

      Induksi Anestesi regional menyebabkan hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.

Metode induksi mempengaruhi bagian alur sensorik. Ahli anestesi memberi anestesi regional secara infiltrasi dan lokal.

Infiltrasi obat anestesi dapat dilakukan dengan salah satu metode induksi berikut :

  1. Blok saraf. Anestesi lokal disuntikkan kedalam saraf,  misalnya : plektus brakialis pada lengan.
  2. Anestesi spinal. Ahli anestesi melakukan pungsi lumbal dan memasukkan anestes lokal kedalam cairan serebrospinal pada ruang subarachnoid spinal. Posisi klien mempengaruhi pergerakan obat anestesi ke atas atau kebawah medulaspinalis.
  3. Anestesi epidural. Prosedur ini lebih aman dari pada anestesi spinal.
  4. Anestesi kaudal. Anestesi ini merupakan salah satu jenis anestesi epidural yang diberikan secara lokal pada dasar tulang belakang. Efek anestesi hanya mempengaruhi daerah pelvis dan kaki.

Ada beberapa resiko yang mungkin timbul akibat anestesi infiltrasi, terutama pada anestesi spinal. Blok anastesi pada saraf vasomotorik simpatik dan serat saraf nyeri dan motorik menimbulkan vasodilatasi yang luas sehingga klien dapat mengalami penurunan tekanan darah yang tiba – tiba. Selama pembedahan berlangsung klien dengan anastesi regional akan tetap sadar kecuali jika dokter memprogramkan pemberian tranquailizer yang dapat menyebabkan klien tidur.

Teknik pemberian anestesi , yaitu :

  1. Lokal anestesi

Injeksi obat anestesi secara IC dan SC ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

  1. Field Block

         Injeksi secara bertahap pada sekeliling daerah yang dioperasi.

  1. Nerve Block

         Injeksi obat anestesi lokal ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor dan sympatis.

2.2.3 Pengaturan Posisi Klien Selama Pembedahan

Selama anastesi umum, tenaga keperawatan dan dokter bedah sering kali tidak mengatur posisi klien sampai klien mencapai tahap relaksasi yang lengkap. Posisi yang dipilih biasanya ditentukan oleh teknik bedah yang digunakan. Idealnya, posisi klien diatur agar dokter bedah mudah mencapai tempat pembedahan. Dan fungsi sirkulasi serta pernafasan adekuat. Posisi tidak boleh mengganggu struktur neuromoskuler. Kenyamanan dan keselamatan klien harus diperhatikan. Tim harus mencatat usia, berat badan, tinggi badan, status nutrisi, keterbatasan fisik, dan kondisi yang ada sebelum pembedahan serta mendokumentasikannya untuk mengingat petugas yang akan merawat klien setelah operasi (Walsh, 1993).

Pada klien yang diberikan anastesi, mekanisme pertahanan normal tidak dapat melindungi terjadinya kerusakan sendi, regangan dan ketegangan otot. Otot terlalu lemas sehingga relatif mudah untuk meletakkan klien pada posisi yang tidak bisa dilakukan oleh individu normal saat sadar. Klien sering berada pada posisi yang ditentukan selama beberapa jam. Walaupun klien mungkin perlu berada pada posisi yang tidak biasa, perawat harus tetap mempertahankan postur tubuh yang tepat dan melindungi klien dari tekanan, gesekan, dan cedera lain.

Meja operasi memberi perlindungan dan menjadi bantalan untuk ekstremitas serta tonjolan tulang. Pengaturan posisi tidak boleh menggaggu pergerakan normal diafragma atau mengganggu sirkulasi ke bagian tubuh. Apabila perlu dilakukan pengikatan, perawat memberi bantalan pada area yang akan diikat untuk mencegah terjadinya cedera kulit. Berikut ini adalah macam posisi klien saat operasi

  1. Posisi dorsal rekumben

Posisi lazim untuk pembedahan adalah terlentang datar dengan satu lengan di sisi tubuh dan telapak tangan tertelungkup, tangan satunya di posisikan diatas sebuah papan lenga untuk infuse intervena. Posisi ini digunakan untuk bedah obdomen kecuali untuk bedah kandung empedu. (Gbr. 2-1)

  1. Posisi trendelenburg

Dalam posisi ini kepala dan badan lebih rendah dan lutut fleksi. Biasanya digunakan untuk pembedahan abdomen bawah dan pelvis untuk mendapat pajanan area operasi dengan menggeser intestine ke dalam abdomen atas. (Gbr. 2-2)

  1. Posisi litotomi

Pasien terlentang dengan tungkai dan paha fleksi dan memepertahankan kaki pada pijakan kaki. Posisi ini digunakan dalam pembedahan perineal, rectal dan vaginal. (Gbr. 2-3)

Gbr. 2-2 Posisi Trendelenburg

Gbr. 2-3 Posisi Litotomi

 

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengatur posisi klien saat pembedahan adalah :

  1. Pasien harus dalam posisi senyaman mungkin, apakah ia tertidur atau sadar.
  2. Area operatif  harus terpajan secara adekuat
  3. Pasokan vaskuler tidak boleh terbendung akibat posisi yang salah atau tekanan yang tidak tepat pada bagian.
  4. Pernapasan pasien harus bebas dari gangguan tekanan lengan pada dada atau kontriksi pada leher dan dada yang disebabkan oleh gaun.
  5. Saraf harus dilindungi dari tekanan yang tidak perlu.
  6. Tindak kewaspadaan untuk keselamatan pasien harus diobservasi, terutama pada pasien yang kurus, lansia atau obesitas.
  7. Pasien membutuhkan restrain tidak keras sebelum induksi, untuk berjaga-jaga bila pasien melawan.

 

2.2.4 Peran Perawat Selama Pembedahan

Perawat melakukan satu dari dua peran selama pembedahan berlangsung, yaitu sebagai perawat instrumentator atau perawat sirkulator. Perawat instrumentator (scrub nurse) memberikan instrument dan bahan–bahan yang dibutuhkan oleh dokter bedah selam pembedahan berlangsung dengan menggunakan tekhnik aseptic pembedahan yang ketat dan terbiasa dengan instrument pembedahan. Setiap instrument dibentuk dengan tujuan tertentu selama tahap pembedahan. Peran ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipai instrument apa yang dibutuhkan oleh dokter bedah dan memberikannya dengan cepat dan lancar. Perawat intrumentator juga membuang spon kasa yang telah kotor dan menghitung jumlah spon kasa, jarum, dan instrument yang berada pada lapangan bedah dan di dalam rongga tubuh klien. Peran ini dapat dilakukan oleh tekhnisi instrumentator yang bukan perawat.

Perawat sirkulator adalah asisten perawat instrumentator dan dokter bedah. Saat klien pertama kali masuk ke dalam ruang operasi, perawat sirkulator membantu mengatur posisi klien dan menyediakan alat dan duk bedah yang dibutuhkan dalam pembedahan. Selama pembedahan berlangsung, perawat sirkulator menyediakan bahan–bahan yang dibutuhkan perawat instrumentator, membuang alat dan spon kasa yang telah kotor, serta tetap menghitung instrument, jarum, dan spon kasa yang telah digunakan. Apabila diperlukan, perawat sirkulator juga dapat membantu mengubah posisi klien atau memindahkan posisi lampu operasi. Seperti anggota tim bedah lainnya, perawat sirkulator juga menggunakan teknik aseptic bedah. Apabila teknik aseptic telah hilang, perawat sirkulator membantu anggota tim bedah dengan mengganti dan memakai kembali gaun dan sarung tangan steril.

Pada setiap akhir prosedur pembedahan, perawat instrumentator dan sirkulator menghitung jumlah instrument, jarum, dan spon kasa yang telah digunakan. Prosedur ini mencegah tertinggalnya bahan–bahan tersebut di dalam luka bedah klien. Spon yang basah oleh darah di dalam luka dapat terlihat dengan mudah. Memantau bahan–bahan tersebut secara hati–hati penting bagi keselamatan klien. Perawat yang kurang tepat menghitung jumlah bahan–bahan tersebut dapat dituntut secara hukum. Apabila klien cidera karena perawat salah meletakkan jarum atau instrument maka perawat dapat dianggapa lalai.

2.2.5 Dokumentasi Perawatan Intraoperatif

Selama fase intraoperatif, petugas keperawatan melanjutkan rencana asuhan keperawatan operatif. Misalnya, aseptic yang ketat harus dilakukan untuk meminimalkan risiko infeksi luka bedah. Infuse cairan IV dan memantau haluaran urine dan haluaran lambung melalui selang NG adalah tindakan yang harus dilakukan perawat untuk mempertahankan keseimbangan cairan. Selama prosedur pembedahan berlangsung, perawat menjaga agar pencatatan aktivitas perawatan klien dan prosedur yang dilakukan oleh petugas ruang operasi tetap akurat. Dokumentasi perawatan intraoperatif memberi data yang bermanfaat bagi perawat yang akan merawat klien setelah pembedahan.

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s